Minggu, 21 Juni 2015

Love Disease

"Diikutkan untuk Ramadhan Giveaway dengan tema [Friendzone]."


“Bantuin gue dong, Nes?” pinta Raka tanpa basa-basi saat dia datang setelah telat hampir setengah jam yang membuatku dongkol setengah mati. Padahal dia sendiri yang minta ketemuan, tapi dia yang telat.

“Apa?” tanyaku malas tanpa memandang ke arahnya. Aku sudah terlalu malas untuk berbicara pada anak yang satu ini. Kenapa dulu aku bisa berteman dengannya sih?

“Bantuin gue buat bisa deket sama Nina. Lo tau Nina kan?” jawabnya enteng. Tidak menyadari keenggananku untuk membantunya. Aku tersedak dan batuk-batuk. Aku tidak salah dengar-kan? Bantuin apa? Bantuin dia buat bisa deket sama Nina?

Aku melotot ke arahnya yang hanya di balasnya dengan cengiran lebar. Heran deh sama ini anak, dia nggak pernah peka kapan orang marah, sedih, atau lagi bahagia. “Nggak-ah!” balasku cepat.

“Lo kok gitu sih. Plisss.” Raka kembali memohon. Tuhan, bagaimana menyadarkan anak ini sih!

“Gue ogah. Lagian kenapa musti Nina sih?” bukan apa-apa ya, tapi Nina itu saingan berat gue kalau kalian semua pengen tahu. Ogah banget gue ngenalin Raka sama nenek-nenek lampir macam dia. Bisa patah hati ntar Raka kalau tahu gimana kelakuan Nina.

“Nggak tahu juga sih. Gue ngerasa nyaman aja kalo sama dia.” Raka bahkan tidak menyadari air mukaku yang menegang usai dia mengatakan hal itu. Aku tentu aja marah, selama ini, gue Vanessa Safirah, yang selalu ada disampingnya nggak dianggap ternyata.

“Trus lo anggap gue apa?” tanyaku tanpa ba-bi-bu. Aku udah terlanjur sakit hati, udah terlanjut di sakiti berkali-kali sampai rasanya nih hati udah mati rasa.

“Sahabat-lah. Lo kan yang paling ngertiin gue, Nes.” Hati gue langsung mencelos. Ternyata selama ini dia cuma nganggep gue sahabatnya. Sa-ha-bat, nggak lebih.
“Kok lo bisa bilang nyaman waktu deket dia. Kapan lo ketemu dia?” tanya gue penasaran.

“Udah lama sih. Ternyata dia orangnya asik lo, Nes. Easy-going banget.” Wajahnya tampak berbinar-binar. “Jadi lo mau bantuin gue kan?”

“Lo kira gue mak comblang lo apa? Ogah-ah.” Balasku tak kalah cepat. Segera aku cabut dari cafĂ© langgananku sama Raka sebelum aku terlanjut sakit hati lebih lama. “Mending gue pulang aja, daripada nanggepin sesuatu hal yang nggak penting.”

Tanpa menatap ke belakang, aku langsung melangkah cepat. Aku tahu Raka mencoba untuk mencegahku pergi. Aku hanya tidak ingin terluka lebih dalam jika mendengarnya bercerita tentang perempuan. Apalagi perempuan-perempuan yang pernah berhasil merebut hatinya.

“Nes, lo kenapa sih?” tanya Raka setelah berhasil meraih tanganku dan memaksaku berhenti.

Aku menatapnya lama dengan pandangan sedih, tapi dia pasti tidak menyadarinya. Dia tidak peka, Nes! Lo harus inget itu. “Gue PMS, puas lo!” aku mengibaskan tangan miliknya dan segera kabur sebelum dia mengejarku lagi.
**
Setelah kejadian itu, sebisa mungkin aku menghindar untuk bertemu dia. Waktu di kampus, aku mencoba untuk menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan. Karena dengan begitu, aku akan segera melupakan rasa sakit atas sikap Raka tempo hari.

Saat hendak pulang tanpa sengaja aku berpapasan dengan orang yang tidak ingin kulihat. Raka dan oh astaga! Dia bergandengan tangan bersama Nina. Mungkinkah….

Tepat saat itu, Raka menoleh dan melihatku. Aku membeku, tidak bisa bergerak apalagi berlari untuk menghindarinya. Yang kutahu setelah itu, dia sudah ada di hadapanku dengan cengiran lebar khas miliknya dan tatapan sengit Nina —yang aku sangat yakin Raka tidak mengetahuinya.

“Hai, Nes. Lo kemana aja sih?” tanya Raka masih dengan menggandeng mesra tangan Nina. Aku tidak segera menjawab pertanyaan Raka, justru menatap lurus pada tangan mereka yang saling bertautan. Mungkin Raka menyadari tatapan heranku karena setelahnya dia tersenyum, “Gue jadian sama Nina, Nes.” Senyumnya makin mengembang saat mengatakan hal itu.

Aku diam, mungkin malah lebih mengerikan, melongo. Rasanya baru kemarin Raka memohon-mohon buat di comblangin sama Nina, sekarang udah main gandeng-gandeng tangan. Rasanya semuanya tampak buram, airmataku rasanya ingin pecah dan mengalir mulus di pipi, tapi aku menahannya. Tidak di depan mata playgirl milik Nina yang aku sangat yakin sedang menertawakanku karena dia menang.

“Nes, lo nggak kasih selamat sama kita?” Raka kembali bersuara, membuatku kembali ke dunia nyata dan kembali di hadapkan pada situasi yang membuatku ingin mencakar-cakar wajah mulus mereka berdua. Gue lagi patah hati, terus dia seenaknya bilang suruh ngucapin selamat?

“Ng, Eh…” aku terbata-bata, atau lebih terpatnya masih kebingungan. Rasanya nyawaku melayang entah kemana.

“Nes…” panggil Raka.

Aku mendongak dan mendapati raut khawatir tergambar jelas di wajah Raka. Buru-buru aku bersuara, “Ng, selamat ya!” kataku akhirnya. Aku mencoba untuk tersenyum, tapi aku tidak yakin apakah di mata kedua orang yang ada di depanku ini mereka menganggapnya senyuman.

“Nes, lo sakit?” tanya Raka. Aku senang dia mengkhawatirkanku, tapi aku tahu itu hanya kekhawatiran seorang sahabat kepada sahabatnya. Nggak lebih. Seharusnya kamu sadar, Nes.

“Nggak, cuma kurang enak badan.” Balasku asal. Aku ingin segera cabut dari hadapan mereka berdua. Merasa muak dengan tingkah mereka berdua yang kelewat romantis.

“Gue anter pulang ya, Nes?” tahu-tahu Raka sudah di sampingku, meninggalkan Nina yang terlihat dongkol di belakang kami.

“I’m okay, Ka.” Ucapku berharap dia segera pergi dari hadapanku karena aku sedang tidak ingin melihat wajahnya, terutama wajah bahagianya. Mungkin aku egois, karena berharap bahwa Raka tidak bahagia, tidak jika bersama Nina. “Balik gih, kasian Nina ditinggal sendiri.”

“Nina bisa naik taksi, Nes. Aku khawatir nanti lo kenapa-napa di jalan.” Jelas Raka, membuat langkahku berhenti dan menatapnya.

“Lo nggak perlu khawatir berlebihan sama gue? Cuma nggak enak badan doang kok. Gue bisa jaga diri sendiri, Ka.” Kataku akhirnya.

“Tapi akan lebih baik kalo ada orang di samping lo. Gue cuma takut, Nes.” Raka menunduk, membuatku merasa bersalah karena tadi sedikit bersikap kasar kepadanya. “Gue cuma nggak pengen sahabat gue satu-satunya kenapa-napa.”

Sahabat.

Kata itu entah kenapa terdengar menyakitkan di telingaku. Aku tahu sekeras apapun aku mencoba untuk berharap bahwa mungkin Raka punya perasaan lebih, tapi nyatanya itu hanya khayalanku saja. Aku terlalu banyak berharap ada perasaan lebih dari Raka padaku, padahal sebenarnya itu tidak pernah ada.

“Nes…” panggil Raka ketika aku lagi-lagi hanya bergeming tanpa bicara. Dia mencoba menyadarkanku dengan menyentuh lenganku, tapi aku segera menepisnya. Rasanya hanya dengan dia menyentuh lenganku, sama saja dengan dia menanamkan seribu jarum yang siap menusuk dan menjalarkan rasa sakit yang teramat.

“Gue bukan anak kecil lagi, Ka. Gue udah gede. Daripada lo pusing-pusing mikirin gue, pergi dari hadapan gue sekarang juga lalu temui pacar baru lo itu.” Tegasku. Aku tahu aku kasar saat mengatakannya. Raka sempat terkejut dengan responku yang kelewat meledak-ledak, tapi aku tidak memedulikannya. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah pulang ke rumah dan kalau perlu tidak usah kembali lagi ke kampus.
**
Kupikir aku bisa menghindari Raka untuk beberapa hari, tapi hari ini dia nekat datang ke rumahku, padahal aku sudah berusaha memblokir aksesnya untuk bisa menghubungiku. Aku menonaktifkan Whatsapp, BBM, bahkan aku tidak membalas puluhan sms yang coba dia kirim ke ponselku.

Ketika aku mendengar degap langkah kakinya, aku berpura-pura tidur. Aku belum siap untuk bertemu dengannya, apalagi menatap mata serta wajahnya yang hanya akan membuatku tambah terluka.

Gagang pintu di putar, lalu langkah kaki itu berjalan pelan menghampiriku. Aku yakin sekarang Raka ada persis di samping tempat tidurku.

“Nes…” suara itu, suara yang kukenal. Suara yang sangat-sangat aku rindukan berhari-hari. Suara Raka. “lo tidur ya?”

Aku diam. Mencoba berkonsentrasi pada drama berpura-pura tidur layaknya Princess Aurora, tapi sayangnya aku bukanlah Princess Aurora yang menunggu Pangeran untuk mencium dan membangunkanku dari mimpi indah.

Lalu sebuah tangan membelai puncak kepalaku, membuatku berusaha sebisa mungkin untuk tidak bergerak gelisah karena sengatan aneh yang menimpa tubuhku karena sentuhan itu.

“Nes, gue rasa lo mulai berubah deh! Nggak kayak Vanessa yang gue kenal.” Ucapnya lirih, tapi masih bisa tertangkap kupingku yang memang waspada. Aku masih berpura-pura tidur, mungkin saja dengan begitu dia akan mencurahkan semuanya. Semuanya…

“Maaf ya kalau semua yang gue lakuin buat lo percuma. Maaf…” jeda panjang sampai aku berpikir Raka sudah pergi. Tapi setelah melirik sekilas, aku tahu kalau Raka masih ada di sampingku dengan wajah tertunduk. Kenapa aku jadi merasa bersalah?

Aku berusaha mati-matian untuk tidak terlena dan bangun. Aku sungguh belum siap. Hati ini masih sangat sakit atas apa yang terjadi, atas sebuah kenyataan pahit yang harus kutelan bulat-bulat. Kenyataan tersebut bernama Sahabat.
**





Kutatap lagi pesan milik Raka. Aku sebenarnya enggan untuk merespon apalagi sampai menemuinya. Sudah lama sejak insiden Raka meminta maaf kepadaku. Aku tidak merespon juga tetap menghindarinya. Aku cuma butuh sendiri, dengan begitu aku akan bisa melupakan rasa sakit hati dulu. Hampir saja bisa sampai sms itu mendarat di ponselku. Aku menimbang-nimbang untuk menemuinya. Tapi tanda terduga, akal sehatku akhirnya memutuskan untuk menemui Raka, dan di sinilah aku sekarang. Di taman kampus dengan Raka yang berada di sampingku. Bungkam dan terus menunduk.

“Sekarang apa?” tanyaku sewot. Bayangin, dari aku datang sampai sekarang dia terus menunduk. Nggak mau bicara. Keputusanku rasanya salah.

“Gue putus sama Nina, Nes.” Balasnya lesu.
Oh. Bukannya aku menyumpahinya untuk segera putus ya! Bukan. Tapi rasa senang tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhku. Kupu-kupu dalam perutku berterbangan tidak karuan.

“Padahal gue sayang banget sama dia Nes. Gue coba tanya apa salah gue, tapi dia terus berkelit. Gue udah berusaha buat ngertiin dia.” Curhat Raka, “Gue harus gimana, Nes?”

Dia akhirnya menatapku dan setelah itu aku baru tersadar. Wajah Raka lesu dan kunyu seperti habis tersiram air es. Rambutnya acak-acakan. Ekspresi wajahnya menyiratkan kesakitan dan frustasi. Melihat itu, hatiku kembali sakit. Melihat Raka seperti orang yang tidak berdaya karena seorang perempuan membuatku terluka. Rasa senang yang tadinya menjalari tubuhku, tiba-tiba menguap begitu saja setelah melihat tatapan Raka.

“Lo sayang banget ya sama Nina?” tanyaku ragu-ragu. Aku takut mengetahui jawabannya tapi aku rasa penasaranku jauh lebih besar daripada rasa takutku.

“Gue sayang banget sama dia, Nes.” Raka menjambak rambutnya, frustasi. “Gue harus gimana, Nes? Gue nggak mau kehilangan dia.”

Aku benci kenyataan itu. Kenyataan bahwa memang Raka tidak akan pernah menganggapku special. Kenyataan bahwa Raka akan selamanya hanya menganggapku sebagai sabahatnya.

“Nina itu playgirl, Ka.” Kataku akhirnya, berusaha untuk tidak marah padanya karena ketidaktahuannya. Aku yang salah, seharusnya aku mencegah dia untuk dekat dengan Nina. Kalau saja aku bisa mencegahnya, mungkin kejadian seperti ini nggak akan terjadi.

Di sampingku, Raka terkejut. Wajahnya menegang, “Lo kok ngomong gitu sih? Dia kan temen lo! Tega ya lo!” tungkas Raka. Aku pikir dia marah karena ketidaktahuannya, tapi ternyata dia marah karena aku menuduh Nina.

Aku berusaha untuk tidak terpancing emosi karena kemarahannya, tapi aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur sakit hati karena kata-katanya tadi. Aku sudah berusaha memberitahu Raka yang sebenarnya, tapi dia malah menyalahkanku. Menuduhku memfitnah Nina.

“Buka dong mata lo, Ka. Bukan cuma Nina doang yang nunggu cinta lo. Masih ada orang yang care sama lo. Yang berusaha buat tetep sayang sama lo meski lo udah nyakitin hatinya. Dia rela nge-jomblo bertahun-tahun cuma buat nunggu lo buat nembak dia. Nunggu lo sadar kalau ternyata ada yang sayang lo. Tapi lo nggak pernah sadar, Ka.” Aku memuntahkan semua unek-unek yang ada di hati. Karena kemarahannya tadi membuatku kelepasan mengatakan hal yang sebenarnya tidak boleh aku katakan.

“Nes…” Raka tampak terguncang. Mungkin informasiku barusan membuatnya terkejut. Tapi aku tidak ingin berhenti sebelum dia mengetahui semuanya.

“Nggak, Ka. Lo harus tahu semuanya. Dia rela sakit hati waktu lo deket sama perempuan lain. Tapi dia coba sabar, Ka. Berusaha menyakinkan dirinya sendiri kalau lo pasti akan menyadari cintanya. Tapi…” aku menggantung kalimat, menarik napas panjang lalu melanjutkan, “Lo tu nggak pernah peka.” Akhirnya setelah bertahun-tahun memendamnya, aku bisa mengutarakannya.

“Kenapa dia nggak nyatain cinta duluan aja, Nes? Biar gue tahu.”

“Lo pikir perempuan punya nyali besar buat nyatain cinta. Perempuan itu cuma bisa nunggu, Ka. Nunggu doang!” pekikku marah.

“Dia siapa, Nes?” tanya Raka.

Damn it.

“Lo masih nggak tahu siapa dia? Dia yang selalu ada buat lo. Yang selalu dengerin curhat-curhatan lo mengenai gebetan-gebetan lo. Yang mau nampung segala keluh kesah lo. Yang sekarang ini ada di hadapan lo.” Aku menelan ludah saat mengatakannya. Kutatap Raka yang terperangah dan diam tanpa ingin bersuara. Aku menunggu —cukup lama sampai kupikir aku ingin lari saja karena dia tak kunjung bicara.

“Nggak bisa, Nes. Itu nggak boleh.” Tatap Raka. Wajahnya tampak lebih frustasi setelah informasi mendadak yang baru di dengarnya. “Kita sahabat.”

“A guy and a girl can’t be just friends, Ka. Lo harus tahu itu. Dari dulu gue nggak pernah nganggep lo sahabat. Sekalipun nggak terlintas.” Ucapku. Dadaku sesak, kepalaku rasanya di hantam godam. Pengakuan yang kubuat membuatku lemas. Seluruh tubuhku rasanya terkurang habis karena mengakuan itu.

“Nes…” panggil Raka. Aku tahu dia bingung untuk menjawab apa.

“Gue nggak butuh jawaban dari lo. Gue cuma mau buat pengakuan aja. Gue nggak mau nunggu terus orang yang nggak pernah ngganggep gue. Capek lama-lama nunggu, Ka. Lagipula apa setelah gue kasih mengakuan lo bakal suka sama gue. Nggak, kan?”

“Kita bisa tetep jadi sahabat, Nes.”

“Nggak. Gue nggak bisa, Ka. Tadi gue udah bilang, kan. Gue nggak pernah bisa kalo harus sahabatan sama lo. Gue nggak sanggup nahan rasa sakit lebih lama lagi. Mending kita udahan aja sahabatannya, gue harap lo nantinya bakalan dapet sahabat yang lebih ngerti lo.” Aku bangkit dan melangkah cepat. Aku ingin menangis, tapi menahannya. Aku tidak ingin Raka menganggapku lemah. Tidak jika di depan Raka.

Kupikir Raka bakalan mencegah kepergianku. Paling tidak memanggil namaku. Tapi ternyata tidak. Dia tetap bergeming di bangku taman tempat kami duduk tadi. Aku terluka dan ini yang paling parah. Sampai kapan pun memang kami tidak akan pernah bersatu. Ada sebuah garis yang menghalangiku untuk bisa meraih Raka. Garis kuat yang tidak bisa kulewati hanya dengan tubuh dan kekuatan hati saja, apalagi hanya aku yang berjuang sendiri. Garis yang membentang panjang layaknya samudera yang sulit untuk dilewati. Orang-orang biasa menyebutnya Friendzone.

Kamis, 18 Juni 2015

[Review] Carrie



 Judul : Carrie
Penulis : Stephen King
Alih Bahasa : Gita Yuliani K.
Desain dan Ilustrasi Sampul : Staven Andersen
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : Februari, 2014
Edisi : Cetakan Kedua
ISBN : 978-979-22-9951-9
Tebal : 256 halaman ; 20 cm
Rating : 3 dari 5 bintang

Sinopsis :
Carrie White adalah gadis yang tidak populer, tapi dia memiliki kemampuan tersembunyi. Carrie bisa membuat benda-benda bergerak jika dia memusatkan perhatiannya pada benda itu. Kemampuan ini membuatnya berkuasa dan menjadi sumber dosanya.

Carrie hanya ingin menjadi gadis normal di sekolah, tidak diejek sebagai gadis aneh, dan… bisa pergi ke persta dansa sekolah. Hingga seorang gadis berusaha menebus kesalahannya pada Carrie dengan memberikan semua keinginan Carrie tersebut. Kebaikan ini berubah menjadi malapetaka yang takkan pernah dilupakan teman-teman sekolahnya dan seisi kota.

“Mengerikan dan menakutkan… Kau tidak bisa berhenti membacanya.” —Chicago Tribune
***
“Jadi aku dilarang ikut Prom dan ayahku yang pengecut bilang ia tidak akan memberikan mereka apa yang pantas mereka dapat. Tetapi mereka tidak akan lolos dengan ini. Aku belum tahu persis apa yang akan kulakukan, tetapi kujamin semua akan mendapatkan kejutan besar….” —Carrie

Carrie White, gadis muda yang selalu di-bully di sekolah, apalagi saat dia mendapatkan haid pertamanya. Dia yang memang tidak mengerti kalau itu bukan darah kematian, melainkan hanya darah bulanan seorang wanita yang sudah dewasa. Ibunya tidak pernah memberitahunya, sehingga dia diolok oleh teman-temannya termasuk Chris dan Sue dan dilempari pembalut.

Seakan belum cukup penderitaan yang dihadapinya di sekolah, di rumah dia juga di tekan ibunya yang fanatik beragama. Ibunya selalu melarangnya berbuat ini-itu, ibunya beranggapan bahwa semua yang dilakukan manusia dosa dan dosa. Setiap kali Carrie salah berbicara atau salah berbuat sesuatu, ibunya akan langsung menyeretnya ke lemari besar dan menyuruhnya untuk berdoa selama enam jam. Ibunya juga sering memukulinya atas kesalahan-kesalahan kecil.

Carrie memiliki kemampuan telekinetik sejak kecil dan ibunya menganggap itu bukan suatu kelebihan melainkan beranggapan bahwa Carrie anak setan, keturunan iblis yang penuh dosa.

Saat perayaan pesta dansa sekolah, Tommy —laki-laki yang sudah lama disukainya, tiba-tiba mengajaknya untuk datang bersama. Suatu keajaiban tentunya bagi Carrie yang memang tidak punya teman sekalipun. Dan dia menyetujuinya.

Sebenarnya Tommy tidak berniat untuk mengajak Carrie, tapi karena permintaan pacarnya —Sue Snell, maka dia mengiyakan permintaan konyol itu. Sue merasa kalau dia bersalah karena insiden pembalut yang membuat Carrie tidak masuk selama seminggu. Dia hanya ingin menebus dosanya kepada Carrie.

Acara Prom awalnya menyenangkan bagi Carrie yang memang tidak pernah datang tapi akhirnya malah berujung pada tragedi massal terhadap orang-orang yang kerap menganiayanya. 

Lalu, bagaimana akhir dari kisah Carrie?

Awal baca, nggak bisa memahami isinya. Mungkin karena terjemahannya yang agak membingungkan. Beberapa kali saya dibuat mengernyit karena bahasanya yang kurang bisa saya serap. Dan kesan pertama yang saya tangkap dari novel ini adalah menjijikkan. Bukan ide ceritanya ya! Melainkan ulasan pertama yang membahas tentang haid yang dialami Carrie untuk yang pertama kali di usianya yang sudah menginjak 17 tahun. Ulasan tentang bagaimana Carrie tidak tahu-menahu tentang haid itu sendiri dan dia menganggap bahwa dia akan mati, lalu teman-temannya yang mulai berteriak dan menertawakannya atas ketidaktahuannya, mulai melemparinya dengan pembalut itulah yang membuat bayangan saya itu, agak menjijikkan. Tentunya bukan momen menyenangkan bagi Carrie. Dan aku bisa merasakan bagaimana terlukanya Carrie dengan semua perilaku teman-temannya dan ibunya.

Dan saat bagaimana Carrie tersiram darah babi saat penobatan Raja dan Ratu Prom serta kemarahan Carrie karena dia merasa dijebak lagi, itu membuat emosi saya naik. Dan jangan tanya bagaimana akhirnya kisah ini, Carrie menghancurkan semuanya. Semuanya, mulai dari sekolahnya sendiri dan membunuh banyak teman-temannya serta membunuh Billy serta Chris yang memang menjadi dalang dari insiden darah babi tersebut. Ya, Carrie membunuh hampir semua teman-teman yang pernah menganiayanya dan juga menghancurkan kota tempat tinggalnya, Chamberlain.

Saya merasa senang karena para tokoh-tokohnya bisa ditonjolkan, entah itu tokoh utama maupun tokoh pembantu seperti Sue dan Chris, Tommy maupun Billy. Penulis bisa menyeimbangkan dialog setiap tokoh-tokohnya dengan baik sehingga semunya bisa sinkron untuk penempatan posisi masing-masing tokohnya!

Deskripsi di setiap setting cerita yang lengkap, membuat saya bisa membayangkan bagaimana kehidupan Carrie dan bayangan saya agak kurang mengenakkan. Apalagi pada bagian, rumahnya. Hmm… dalam bayangan saya sedikit mengerikan, kurasa.

Kisah ini saya rasa merupakan kisah masa lalu, atau lebih tepatnya sebuah kejadian yang di ceritakan ulang kalau dilihat dari kutipan Bayangan Meledak dan Namaku Susan Snell yang tak lain adalah Sue Snell. Jadi aku pastikan bahwa alurnya mundur.

Sebenarnya kalau dipikir ulang dan dari ulasan seorang tetangganya saat Carrie masih kecil, dia gadis yang bisa dibilang manis, lugu dan cerdas. Tapi karena didikan ibunya yang fanatik agama itulah yang membuatnya berbeda dari anak remaja pada umumnya.

Saya yang selalu penasaran dengan kisah fantasi seperti cerita Carrie ini memutuskan untuk menyelesaikannya malam itu juga, berharap besok bisa membaca dan berpetualang di cerita yang lainnya. Awalnya saya tidak bisa berhenti untuk membacanya karena semakin penasaran, dan astaga! Ceritanya memang lain dari pada yang lain. Mengerikan tepatnya. Saya sampai harus berhenti sejenak membaca dan menarik napas panjang. Dan setelah akhirnya memutuskan untuk berhenti, karena sudah tidak kuat untuk melanjutkan, saya merasa mual. Rasanya saat membayangkan bagaimana Carrie tersiram darah babi membuat perut saya bergejolak aneh dan rasanya ingin muntah.

Beberapa kali pula saya membalikkan halaman tanpa membacanya. Narasinya terlalu panjang dan berbelit-belit, membuat saya pusing saat membacanya. Tapi sebenarnya ide ceritanya benar-benar gila dan membuat saya tercengang. Endingnya memang tidak bisa dibilang manis, lebih terkesan mengerikan. Upss, spoiler…

Last not but least, saya merekomendasikan novel ini buat kalian-kalian yang memang menyukai kisah Carrie White dengan kemampuannya.

“Kesan menyeluruh adalah kota yang menunggu untuk mati. Pada saat ini, tidak cukup untuk mengatakan bahwa Chamberlain tidak akan pernah sama lagi. Mungkin akan lebih mendekati kebenaran untuk mengatakan bahwa Chamberlain tidak akan lagi sama sekali.” —Hal. 249

Selasa, 16 Juni 2015

[Review] Kismet



Judul : Kismet
Penulis : Nina Addison
Editor : Dini Novita Sari & Harriska Adiati
Ilustrasi Sampul : Alfi Zachkyelle
Ilustrasi Naskah & Foto : Nina Addison
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-03-1487-7
Tebal : 296 halaman
Rating : 4 dari 5 bintang

Sinopsis :
Kismet/takdir/destiny. Kata yang melibatkan semacam rahasi kosmik, yang memberi letupan kejutan di sana-sini dalam hidup seseorang, menggiringnya ke tempat ia seharusnya berada.

Konsep itu menggelikan bagi Alisya.

Tetapi ketika di tengah hiruk pikuk New York City ia bertemu dengan Cia, perempuan yang seketika menjadi sahabatnya, Alisya bertanya apakah takdir sedang bekerja?

Lalu muncul Raka, satu-satunya cowok yang bisa membuat Alisya jatuh cinta . Lelaki, lagi-lagi, dibawa takdir masuk ke hidupnya. Sayangnya, takdir yang satu ini berpotensi menghancurkan persahabatannya dengan Cia. Jadi, mana yang harus ia pilih?

Orang bilang persahabatan itu kekal, untuk seumur hidup. Namun, bukankah cinta sejati juga demikian?
***
“Kalau nggak buat cari pasangan hidup, lantas buat apa dong orang pacaran? That’s why I think when I fall in love, I will fall hard. Gue harus mastiin dulu di awal bahwa the guy worth the wait.” —Alisya

Berawal dari sebuah insiden tak mengenakkan di sebuah toko buku di Manhattan yang akhirnya mempertemukan Cialisa dengan Alisya. Mereka berdua sama-sama lari dari masalah, Cia meninggalkan bangku kuliah karena dipaksa oleh orang tuanya sehingga dia memilih untuk kabur dan menetap di New York sedangkan Alisya, memilih untuk melarikan diri dari kekacauan yang terjadi di keluarganya setelah kedua orangtuanya bercerai. Mereka lalu mulai berbagi cerita mengenai perjalanan hidup serta cowok yang pernah singgah dalam hati masing-masing.

Urusan cowok, Cia dan Alisya punya pandangan yang berbeda. Apalagi Cia, dia punya aturan-aturan yang tidak boleh dilanggarnya mengenai pasangan yang akan dipilihnya.

Aturan Pertama :
Pacar selalu satu, and fully commited to that relationship. Nggak peduli mau cowok yang beda-beda atau sama yang tapi putus-nyambung. Nggak mau diam-diam ‘buka cabang.’

Aturan Kedua :
Pasangannya harus avalaible secara fisik dan emosi. Artinya dia harus ada di tempat yang sama, bukan pacaran jarak jauh.

Aturan Ketiga :
Dia harus single. Cowok beristri, biarpun seganteng George Clooney, bye-bye! Bahkan pacar, gebetan, dan untuk beberapa kasus, mantan temen, bye-bye.

Tapi, persahabatan mereka akhirnya diuji dengan keharusan Cia pergi meninggalkan New York untuk kembali ke Indonesia karena kehamilannya dan juga kehadiran Raka ditengah-tengah persahabatan Alisya dan Cia yang langsung memporak-porandakan hati Alisya. Lalu, bagaimana akhir persahabatan mereka dan cinta segitiga yang mempertanyakan kekuatan persabataan mereka?

Finally, saya bisa menyelesaikan kisah asmara Alisya dan Raka. Perfect! Itulah kata paling pas buat menggambarkan kisah dalam novel ini. Memang sih ide ceritanya masih seputar tentang persahabatan dan cinta segitiga, tapi kali ini berbeda. Ada semacam Kismet yang dipadukan dalam kisah ceritanya. Kismet antara Cia-Alisya-Raka-Mr.Gajah. Penulis juga mampu meracik kisah persahabatan ini dengan sangat baik, apalagi selipan-selipan bahasa inggrisnya yang bikin saya keteteran buat nerjemahinnya, meskipun begitu I like that. Dari situ, saya banyak belajar bahasa-bahasa inggris baru, nambah pengetahuan juga.

Saya sangat suka dengan jalan ceritanya, bagaimana penulis bisa menjungkir-balikkan perasaan saya saat membaca kisah Alisya dan Raka. Bikin moody setengah mati karena permasalahan mereka yang bisa dibilang cukup rumit. Apalagi saat Alisya sempat patah hati waktu tahu kalau Cia suka sama Raka dan serba salah waktu Alisya tahu Raka menyukainya. I know what it feels like there is positioned Alisya, because I never felt it. (curhat dikit :D)

Tapi saya agak risi dengan improvisasi Ethan dan Raka. Sedikit juga jadi alasan kenapa saya kurang suka dan rasanya kayak nggak pas aja sedangkan diawal penulis menggunakan kata ganti orang pertama ‘aku’, ditambah improvisasi Raka yang sampai saya selesai membaca bukunya, masih nggak ngerti apa maksudnya. Mungkin kalau improvisasi Ethan dan Raka dari awal dihadirkan oleh penulis, bakal beda lagi alurnya. Jadi, saya akan tahu gimana perasaan masing-masing tokohnya. Kalau agak belakangan, duh rasanya kok udah terlambat banget ya!

“Cinta itu bisa nemplok ke lo kapan aja. Brengseknya cinta tuh gitu. Dia nggak butuh izin buat masuk ke hati lo. Nyelonong gitu aja, either lo akuin atau nggak.” —Ethan

And, I like Ethan. Yeah, semacam cowok idaman sekaligus suami-able. Cakep pinter masak pula, duhh makin kesemsem hahaha *salah fokus. Keberadaan Ethan —adik Alisya, saya rasa porsinya juga pas. Maksud saya nggak cuma dianggurin aja, alias main lewat nama doang, tapi juga punya peran penting dalam membuat Alisya bisa move on dan nggak terus terpuruk dalam penyesalan selama satu tahun. A year? Bukan waktu yang singkat, men! Apalagi dia terus-terusan merasa bersalah karena telah merusak persahabatannya dengan Cia yang sudah terjalin selama lima tahun.

I agree with Cia statement about boyfriend, saya juga termasuk orang yang anti kalo harus ngrebut cowok pacar sendiri. Karakter tiap tokohnya yang beda-beda makin nambah meriah ceritanya, terutama Alisya dan Ethan yang bikin mood langsung naik dan kadang ketawa lewat pertengkaran-pertengkaran “nggak penting” mereka.

Di novel ini, saya masih menemukan adanya typo. Nggak banyak sih, tapi bikin risi juga ngeliatnya apalagi selalu saya temukan di akhir sebuah percakapan. Yup, tanda petik (”) yang selalu terlewatkan di setiap akhir percakapan. Sebenarnya diawal-awal nggak ada, baru agak belakang saya menemukan typo-nya.

Saya suka dengan sikap Raka. He’s gentlemen boy, you know. Bagaimana dia memperlakukan Cia dan Alisya dengan sangat berbeda. Dia hanya menganggap Cia just only friend, tapi berbeda dengan Alisya, karena dia menganggap perempuan itu special. Semacam, sudah ada kismet diantara Raka dan Alisya saat pertama kali bertemu. Gawdd, I melt so if there in position Alisya with an abundance of attention devoted Raka.

Buku ini memiliki pesan moral persahabatan yang cukup kental, apalagi saat Cia mengalami masa-masa terpuruknya, Alisya selalu berusaha untuk selalu ada disamping Cia. Saya bisa merasakan bagaimana khawatirnya Alisya saat Cia tidak kunjung datang saat mereka berencana untuk bertemu di sebuah klinik. Bagaimana paniknya Alisya sewaktu mencari keberadaan Cia dan takut kalau-kalau Cia melakukan hal-hal diluar kesadaran perempuan tersebut. Bunuh diri, misalnya.

Dari ulasan saya, pasti udah pada tahu-kan gimana ending ceritanya? I’m enjoyed to read this book, and I hope you are soo.

Last not but least, saya merekomendasikan novel ini buat kalian-kalian yang memang percaya dengan kismet/takdir/destiny serta kebahagian di setiap akhir cerita.

“Lo pikir di dunia ini yang namanya cinta sejati tuh kayak apa? Yang penghuninya nggak pernah berantem? Yang mulus dan lancar, macam ‘a walk in the park?’ Salah,Al! Cinta sejati itu penuh bompel-bompel, growakan, tambah sana-sini, retak sana-sini. But guess what? Ketika dia masih bernyawa, dia akan tumbuh kuat selepas tiap cobaan yang datang.” —Cia
 

Miss Romances Book Published @ 2014 by Ipietoon