Tampilkan postingan dengan label List Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label List Review Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juni 2015

[Review] Kismet



Judul : Kismet
Penulis : Nina Addison
Editor : Dini Novita Sari & Harriska Adiati
Ilustrasi Sampul : Alfi Zachkyelle
Ilustrasi Naskah & Foto : Nina Addison
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-03-1487-7
Tebal : 296 halaman
Rating : 4 dari 5 bintang

Sinopsis :
Kismet/takdir/destiny. Kata yang melibatkan semacam rahasi kosmik, yang memberi letupan kejutan di sana-sini dalam hidup seseorang, menggiringnya ke tempat ia seharusnya berada.

Konsep itu menggelikan bagi Alisya.

Tetapi ketika di tengah hiruk pikuk New York City ia bertemu dengan Cia, perempuan yang seketika menjadi sahabatnya, Alisya bertanya apakah takdir sedang bekerja?

Lalu muncul Raka, satu-satunya cowok yang bisa membuat Alisya jatuh cinta . Lelaki, lagi-lagi, dibawa takdir masuk ke hidupnya. Sayangnya, takdir yang satu ini berpotensi menghancurkan persahabatannya dengan Cia. Jadi, mana yang harus ia pilih?

Orang bilang persahabatan itu kekal, untuk seumur hidup. Namun, bukankah cinta sejati juga demikian?
***
“Kalau nggak buat cari pasangan hidup, lantas buat apa dong orang pacaran? That’s why I think when I fall in love, I will fall hard. Gue harus mastiin dulu di awal bahwa the guy worth the wait.” —Alisya

Berawal dari sebuah insiden tak mengenakkan di sebuah toko buku di Manhattan yang akhirnya mempertemukan Cialisa dengan Alisya. Mereka berdua sama-sama lari dari masalah, Cia meninggalkan bangku kuliah karena dipaksa oleh orang tuanya sehingga dia memilih untuk kabur dan menetap di New York sedangkan Alisya, memilih untuk melarikan diri dari kekacauan yang terjadi di keluarganya setelah kedua orangtuanya bercerai. Mereka lalu mulai berbagi cerita mengenai perjalanan hidup serta cowok yang pernah singgah dalam hati masing-masing.

Urusan cowok, Cia dan Alisya punya pandangan yang berbeda. Apalagi Cia, dia punya aturan-aturan yang tidak boleh dilanggarnya mengenai pasangan yang akan dipilihnya.

Aturan Pertama :
Pacar selalu satu, and fully commited to that relationship. Nggak peduli mau cowok yang beda-beda atau sama yang tapi putus-nyambung. Nggak mau diam-diam ‘buka cabang.’

Aturan Kedua :
Pasangannya harus avalaible secara fisik dan emosi. Artinya dia harus ada di tempat yang sama, bukan pacaran jarak jauh.

Aturan Ketiga :
Dia harus single. Cowok beristri, biarpun seganteng George Clooney, bye-bye! Bahkan pacar, gebetan, dan untuk beberapa kasus, mantan temen, bye-bye.

Tapi, persahabatan mereka akhirnya diuji dengan keharusan Cia pergi meninggalkan New York untuk kembali ke Indonesia karena kehamilannya dan juga kehadiran Raka ditengah-tengah persahabatan Alisya dan Cia yang langsung memporak-porandakan hati Alisya. Lalu, bagaimana akhir persahabatan mereka dan cinta segitiga yang mempertanyakan kekuatan persabataan mereka?

Finally, saya bisa menyelesaikan kisah asmara Alisya dan Raka. Perfect! Itulah kata paling pas buat menggambarkan kisah dalam novel ini. Memang sih ide ceritanya masih seputar tentang persahabatan dan cinta segitiga, tapi kali ini berbeda. Ada semacam Kismet yang dipadukan dalam kisah ceritanya. Kismet antara Cia-Alisya-Raka-Mr.Gajah. Penulis juga mampu meracik kisah persahabatan ini dengan sangat baik, apalagi selipan-selipan bahasa inggrisnya yang bikin saya keteteran buat nerjemahinnya, meskipun begitu I like that. Dari situ, saya banyak belajar bahasa-bahasa inggris baru, nambah pengetahuan juga.

Saya sangat suka dengan jalan ceritanya, bagaimana penulis bisa menjungkir-balikkan perasaan saya saat membaca kisah Alisya dan Raka. Bikin moody setengah mati karena permasalahan mereka yang bisa dibilang cukup rumit. Apalagi saat Alisya sempat patah hati waktu tahu kalau Cia suka sama Raka dan serba salah waktu Alisya tahu Raka menyukainya. I know what it feels like there is positioned Alisya, because I never felt it. (curhat dikit :D)

Tapi saya agak risi dengan improvisasi Ethan dan Raka. Sedikit juga jadi alasan kenapa saya kurang suka dan rasanya kayak nggak pas aja sedangkan diawal penulis menggunakan kata ganti orang pertama ‘aku’, ditambah improvisasi Raka yang sampai saya selesai membaca bukunya, masih nggak ngerti apa maksudnya. Mungkin kalau improvisasi Ethan dan Raka dari awal dihadirkan oleh penulis, bakal beda lagi alurnya. Jadi, saya akan tahu gimana perasaan masing-masing tokohnya. Kalau agak belakangan, duh rasanya kok udah terlambat banget ya!

“Cinta itu bisa nemplok ke lo kapan aja. Brengseknya cinta tuh gitu. Dia nggak butuh izin buat masuk ke hati lo. Nyelonong gitu aja, either lo akuin atau nggak.” —Ethan

And, I like Ethan. Yeah, semacam cowok idaman sekaligus suami-able. Cakep pinter masak pula, duhh makin kesemsem hahaha *salah fokus. Keberadaan Ethan —adik Alisya, saya rasa porsinya juga pas. Maksud saya nggak cuma dianggurin aja, alias main lewat nama doang, tapi juga punya peran penting dalam membuat Alisya bisa move on dan nggak terus terpuruk dalam penyesalan selama satu tahun. A year? Bukan waktu yang singkat, men! Apalagi dia terus-terusan merasa bersalah karena telah merusak persahabatannya dengan Cia yang sudah terjalin selama lima tahun.

I agree with Cia statement about boyfriend, saya juga termasuk orang yang anti kalo harus ngrebut cowok pacar sendiri. Karakter tiap tokohnya yang beda-beda makin nambah meriah ceritanya, terutama Alisya dan Ethan yang bikin mood langsung naik dan kadang ketawa lewat pertengkaran-pertengkaran “nggak penting” mereka.

Di novel ini, saya masih menemukan adanya typo. Nggak banyak sih, tapi bikin risi juga ngeliatnya apalagi selalu saya temukan di akhir sebuah percakapan. Yup, tanda petik (”) yang selalu terlewatkan di setiap akhir percakapan. Sebenarnya diawal-awal nggak ada, baru agak belakang saya menemukan typo-nya.

Saya suka dengan sikap Raka. He’s gentlemen boy, you know. Bagaimana dia memperlakukan Cia dan Alisya dengan sangat berbeda. Dia hanya menganggap Cia just only friend, tapi berbeda dengan Alisya, karena dia menganggap perempuan itu special. Semacam, sudah ada kismet diantara Raka dan Alisya saat pertama kali bertemu. Gawdd, I melt so if there in position Alisya with an abundance of attention devoted Raka.

Buku ini memiliki pesan moral persahabatan yang cukup kental, apalagi saat Cia mengalami masa-masa terpuruknya, Alisya selalu berusaha untuk selalu ada disamping Cia. Saya bisa merasakan bagaimana khawatirnya Alisya saat Cia tidak kunjung datang saat mereka berencana untuk bertemu di sebuah klinik. Bagaimana paniknya Alisya sewaktu mencari keberadaan Cia dan takut kalau-kalau Cia melakukan hal-hal diluar kesadaran perempuan tersebut. Bunuh diri, misalnya.

Dari ulasan saya, pasti udah pada tahu-kan gimana ending ceritanya? I’m enjoyed to read this book, and I hope you are soo.

Last not but least, saya merekomendasikan novel ini buat kalian-kalian yang memang percaya dengan kismet/takdir/destiny serta kebahagian di setiap akhir cerita.

“Lo pikir di dunia ini yang namanya cinta sejati tuh kayak apa? Yang penghuninya nggak pernah berantem? Yang mulus dan lancar, macam ‘a walk in the park?’ Salah,Al! Cinta sejati itu penuh bompel-bompel, growakan, tambah sana-sini, retak sana-sini. But guess what? Ketika dia masih bernyawa, dia akan tumbuh kuat selepas tiap cobaan yang datang.” —Cia

Senin, 25 Mei 2015

[Review] ToBa Dreams



 Judul : ToBa Dreams
Penulis : TB Silalahi
Penyunting : Farahdiba Agust
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Penata Letak : desain651@gmail.com
Pembuat Sampul : Iksaka Banu
Foto-Foto Koleksi Film ToBa Dreams
Penerbit : Kaurama Buana Antara
Tanggal Terbit : Februari, 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-72024-0-5
Tebal : 248 halaman
Rating : 4 dari 5 bintang

Sinopsis :
Inilah kisah tentang cinta yang terlalu mencintai. Sejenis cinta yang acap kali tersesat dalam usahanya menggapai kesejatian. Seperti Sersan Tebe, tokoh utama dalam kisahan ini, yang mendidik anak-anaknya layaknya pasukan tempur, karena kecintaannya yang luar biasa kepada mereka. Maka ketika Ronggur, anak sulungnya, memberontak terhadapnya, terjadilah konflik mendalam antara ayah dan anak. Ronggur, yang sesungguhnya mewarisi tabiat keras ayahnya, menemukan cinta dalam diri Andini, seorang wanita muslim yang berbeda agama keluarga Sersan Tebe.

Mimpi Sersan Tebe adalah hidup damai dengan mengandalkan uang pension tentara, memilih pulang kampung di tepi Danau Toba. Tetapi Ronggur menolak hidup apa adanya. Ia ingin membuktikan bahwa selama ini ayahnya salah memilih jalan hidup. Dengan penuh siasat, Ronggur menjelma menjadi pentolan mafia narkoba dan merebut Andini dari orangtuanya yang tak merestui hubungan mereka.

Apakah pada akhirnya setiap anak manusia sanggup merenangi sungai takdirnya dengan bahagia? Di antara gemerlap Jakarta dan ketenangan Danau Toba. Sersan Tebe, Ronggur, dan Andini merajut drama perjalanan mereka. Di Danau Toba jualah mimpi-mimpi dan cerita cinta mereka bermula.
***
“Tapi kamu perlu tahu, aku nggak butuh materi. Kalau kamu bilang sanggup memenuhi kebutuhan hidupku, itu bohong. Aku juga nggak mengharapkan itu. Asal cukup tahu kalau aku ini anak tunggal. Aku ini orangnya manja, posesif, egois, dan pencemburu. Sudah siap dengan itu?” — Andini

Sersan Tebe, yang sudah menjadi seorang mantan tentara yang pension saat berusia 55 tahun, berharap lebih pada anak bungsunya, Taruni agar menjadi seorang TNI setelah sebelumnya anak sulungnya, Ronggur enggan untuk menjalani titah ayahnya dan lebih memilih untuk nongkrong nggak karuan dengan teman-temannya sedangkan Sumulung, putra keduanya yang meskipun prestasi akademisnya biasa-biasa saja, masih diharapkan oleh Sersan Tebe untuk bisa mengikuti tes akademi militer, cita-cita lama dari ayah Sersan Tebe.

“Ini bukan batalyon! Kami bukan prajurit Ayah yang harus tunduk perintah komandan! Kami anak-anak, juga punya hak menentukan masa depan sendiri!” —Ronggur

Tebe merasa gagal sebagai seorang ayah karena tidak bisa mendidik anak-anaknya terutama Ronggur, yang sudah 2 tahun drop out kuliah dan masih menganggur. Oleh karena itu, setelah masa pensiunnya, Tebe berencana untuk pindah ke kampung halamannya, Danau Toba. Mungkin dengan keputusannya itu Ronggur bisa merubah sikap buruknya dan mendapatkan pekerjaan. Awalnya Ronggur enggan utuk mengikuti perintah ayahnya karena dengan begitu dia harus berpisah dengan Andini —perempuan yang sudah dipacarinya selama 5 tahun, tapi karena itu permintaan ibunya, akhirnya Ronggur mau menuruti perintah ayahnya.

Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Ronggur di Toba, tapi kehadiran Togar sedikit banyak membuat kerinduan Ronggur terhadap teman-temannya di Tempoa dan Andini terobati.

Ini adalah sebuah cerita keluarga dengan peliknya masalah yang terus berlangsung seakan mempertanyakan, “Mampukah kau menghadapi setiap jengkal permasalahan dihadapanmu dan menyelesaikannya?”

Bagian pembuka, kita sudah disuguhi bagaimana keteguhan Tebe untuk menjadi seorang Tentara, bagaimana kegigihannya dalam mencapai cita-citanya itu. Dan saya sangat yakin kalau buku ini akan banyak membuat saya bisa belajar tentang banyak hal yang tertunya sangat berharga.

Saya merasa sebagian kisah ini, terselip banyak pengalaman pribadi dari penulisnya. Ceritanya mengalir begitu saja seakan-akan penulis memang pernah mengalaminya. Gaya bahasanya ringan dan mudah saya mengerti meskipun banyak hal-hal yang berkaitan dengan Tentara. Dalam novel ini saya juga serasa diajak jalan-jalan oleh penulisnya melalui penjelasan-penjelasan saat Ronggur kembali ke Tarabunga.

Dari kisah ini, saya jadi tahu lebih banyak tentang kehidupan seorang Tentara Pembela Negara Republik Indonesia. Saya pikir mereka orang yang termasuk berkecukupan dan terkesan mewah, tapi persepsi saya dipatahkan dalam cerita ini. Betapa kekurangannya mereka, padahal mereka adalah pembela Bangsa Indonesia, merelakan nyawa untuk melindungi Negara tapi sayang mereka tidak mendapatkan sesuatu yang pantas dari apa yang mereka korbankan : nyawa.

“Kamu sudah menahan hatiku. Ke mana pun aku pergi, aku akan kembali kepadamu.” —Ronggur

Saya suka sekali dengan karakter masing-masing tokohnya yang kuat dan berbeda-beda. Apalagi novel ini sudah difilm-kan, jadi banyak membantu saya untuk bisa membayangkan ceritanya dan bisa dengan mudah masuk dalam alurnya. Untuk aktor dan aktris filmnya saya sangat setuju kalau Vino G. Bastian dan Marsha Timoti yang memperankannya (hehe). Bener-bener cocok dengan karakter Ronggur yang blak-blakan dan Andini yang selalu punya pembawaan yang tenang. Dan saya yakin kalau film-nya akan sama bagusnya dengan cerita dalam novelnya *berharap banget bisa nonton.

Banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik dalam novel ini, terutama semua perilaku Sersan Tebe yang saya anggap sangat terpuji. Dia berusaha membuat kampungnya kembali indah lagi dan dia juga tidak pelit dalam menyebarkan ilmunya sewaktu menjadi seorang Tentara kepada masyarakat desanya terutama dalam hal membersihkan lingkungan sekitar. Patut untuk dicontoh, apalagi bagi anak muda yang memang kadang suka banget ngelanggar lalu lintas, dan secara nggak sadar selalu buang sampah sembarangan *ya kayak saya ini, Eh!!

Yang paling membuat saya senang membaca novel ini adalah tidak adanya typo. Saya sangat bersyukur sekali dengannya karena dengan begitu saya bisa membaca tanpa masalah. Karakter untuk setiap tokoh juga dijelaskan secara gamblang di bagian-bagian terpisah di dalam cerita yang membuat saya semakin menyukai cerita dalam novel ini.

Last not but least, saya merekomendasikan novel ini buat kalian-kalian yang mau meraih mimpi tanpa menghalalkan segala cara.

Selasa, 05 Mei 2015

[Review] Heaven




Judul : Heaven
Penulis : Alexandra Adornetto
Penerjemah : Angelic Zaizai
Penyunting : Dwianda
Penyelaras Akhir : Aramis Ralenka
Pewajah Sampul : Anisa Anindhika
Pewajah Isi : Girtha Eka
Penerbit : Fantasious
Tanggal Terbit : Maret, 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-0900-31-5
Tebal : 576 halaman
Rating : 5 dari 5 bintang

Sinopsis :
Xavier duduk di ujung kursi dan menarikku mendekat, menyandarkan kepalaku di dadanya. “Sayang… kau lupa, ya? Kau pernah ke Neraka dan kembali. Kau selamat. Kau menyaksikan teman-temanmu tewas dan kau sendiri berkali-kali hampir tewas. Seharusnya sekarang taka da lagi yang membuatmu takut. Apa kau tidak tahu betapa kuatnya kau… betapa kuatnya kita?

Seumur hidup aku selalu merasa bagaikan orang luar, menatap ke dalam dunia yang tak pernah menjadi bagiannya. Dalam Kerajaan aku ada, tapi tak pernah benar-benar hidup. Bertemu Xavier telah mengubah semua itu. Dia merangkulku masuk, mencintaiku, dan menjagaku. Dia tidak pernah peduli bahwa aku berbeda, dan dia menghidupkan seluruh duniaku hanya dengan menanti kami, tapi kini jiwaku berpaut erat dengan jiwanya dan tidak ada satu pun, baik Surga maupun Neraka, yang dapat memisahkan kami.

“Aku sangat mencintaimu, Xavier,” bisikku. “Dan aku tak peduli jika seluruh semesta menentang kita.”
Ini kisah tentang betapa cinta adalah penguat jiwamu, pelengkap hidupmu, dan doa ajaibmu ketika kau tak tahu lagi harus berbuat apa.

***
“Seandainya ada pelajaran yang kudapat dari waktuku di bawah sana, itu adalah bahwa tidak ada yang permanen. Segala-galanya dan semua orang yang kita kenal bisa berubah kapan saja. Begitulah cara pandangku sekarang —kecuali kau. Kau satu-satunya yang konstan dalam hidupku.” —Bethany

Setelah akhirnya Beth kembali ke Bumi dan mulai menjalani hari-harinya seperti sebelumnya. Xavier dengan mengejutkan melamarnya saat upacara wisuda mereka. Dan akhirnya menikah dengan bantuan Bapa Mel. Tapi bukannya kebahagiaan yang didapat oleh mereka berdua setelah menikah, kejadian tak terduga terjadi. Bapa Mel —Sang Pendeta menemui ajalnya tepat di depan mata Beth dan Xavier tak lama setelah mereka menikah, karena telah membantu Beth dan Xavier menjadi suami-istri yang sebenarnya sangat ditentang oleh Surga.

“Kau tidak bisa melawan Pencabut Nyawa, dia menjalankan perintahnya. Kalau kau menghalanginya, dia akan membawamu juga. Jangan jadikan aku janda hanya dalam hitungan menit setelah menjadi istrimu.” —Bethany

Seakan belum cukup menguji cinta Beth dan Xavier, mereka harus mendapat amukan Gabriel dan Ivy karena tidakan mereka yang diluar batas serta harus terasingkan di Smoky Mountains, North Carolina untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua dari para Tujuh. Prajurit langit yang mempunyai tujuan menemukan pengkhianat. Xavier tidak diperbolehkan menghubungi orang tuanya di Venus Cove untuk meminimalisir banyaknya orang yang terancam. Bahkan Beth tidak diperbolehkan berada dekat dengan jendela. Ya, mereka layaknya dikurung. Tidak boleh keluar maupun melakukan kontak fisik yang akan semakin memperkeruh keadaan. Segalanya menjadi kacau dan tidak terkendali. Beth bahkan tidak menyangka akan serumit ini, meskipun begitu baik dirinya maupun Xavier tidak menyesal sedikitpun. Mereka sudah siap menghadapi pertarungan lain, perjuangan lain untuk mempertahankan apa yang menjadi hak mereka.

“Memenangkan hak untuk bersama itulah tujuan kita, dan kita hanya sedang bermain melawan tim yang sangat tangguh.” —Xavier

Tak ada seorang pun yang mau terus-terusan terkurung bukan? Dan itulah yang dirasakan oleh Beth. Dia merasa tersiksa karena tidak bisa melakukan apapun, sampai akhirnya gagasan untuk keluar rumah muncul dibenaknya. Awalnya Xavier tidak setuju. Tidak ingin mengambil resiko kalau-kalau para Tujuh menemukan mereka. Tapi karena bujukan keras Beth, akhirnya mereka keluar rumah, walaupun hanya sebentar. Tapi siapa sangka hal tersebut malah membuat mereka celaka. Para Tujuh menemukan mereka, tapi untungnya tidak bisa menangkap Beth. Seakan belum pelik masalah yang ada, Gabriel dan Ivy merelakan diri mereka untuk berpihak dengan Beth yang artinya mereka berkhianat dengan Covernant.

“Aku terlibat dalam semua ini untuk selamanya. Walaupun dunia hancur berkeping-keping di kaki kita, aku takkan pernah meninggalkanmu, Beth.” —Xavier

Untuk tetap aman dan sulit dilacak oleh para Tujuh, Gabriel dan Ivy menyarankan Beth dan Xavier untuk kuliah. Itu akan membuat para Tujuh kesulitan melacak keberadaan Beth karena berbaur dengan manusia. Ford dan Laurie McGraw adalah nama baru mereka di Oxford dan status mereka adalah kakak adik. Kehidupan baru mereka sedang dimulai dengan latar belakang palsu dan juga cobaan-cobaan yang harus dihadapi mereka berdua. Apalagi dengan kehadiran Mary Ellen, teman sekamar Beth yang menyukai Xavier yang seakan mempertanyakan kegigihan dan kekuatan cinta mereka serta kejutan-kejutan yang tak kalah menegangkan.

Akankah nasib berbaik hati pada mereka, walaupun hanya untuk satu hari?

Tak bisa kupungkiri bahwa kisah Beth dan Xavier sangatlah mengagumkan. Aku selalu excited bisa sudah menyangkut Beth dan Xavier. Bahkan kata itu belum cukup menggambarkan bagaimana kisah mereka berdua. Saya beberapa kali sempat berdecak kagum karena penulis bisa memainkan imajinasi terliarnya dan menuangkannya ke dalam tulisan dan jadilah cerita cinta antara Beth dan Xavier. Saya bahkan tidak akan bosan membaca kisah Beth dan Xavier karena selalu saja ada kejutan di setiap halamannya.

Saya cukup bisa bernafas lega karena tidak terlalu banyak typo maupun kalimat-kalimat yang seakan menggabung yang saya temukan di novel Hades. Font-nya lebih baik dan ditata rapi jadi saya bisa membaca dengan nyaman dan tidak sampai membelalak-kan mata. Bahasa terjemahannya lugas dan mudah dimengerti. Penyunting juga berperan cukup besar untuk meminimalisir adanya typo, berbeda dengan novel Hades yang tidak memiliki penyunting.

Belum habis petualangan yang saya jajaki di novel kedua, saya harus berpetualangan lagi dengan Beth dan Xavier di novel ketiganya. Apalagi masalah yang dihadapi semakin pelik dan kompleks. Bagaikan seorang buronan, mereka selalu pindah untuk menyamarkan keberadaan. Xavier yang harus kehilangan jiwanya sebanyak dua kali, pergulatan Xavier dan Lucifer dalam tubuhnya. Dan masih banyak lagi permasalahan lainnya yang bahkan membuat saya harus memeras otak memahami setiap konfliknya *maklum, agak lemot haha. Perjalanan mereka tidak mudah. Keduanya bakal menghadapi lebih banyak kedukaan dan kehancuran dalam beberapa bulan saja dibandingkan dengan yang pernah dialami kebanyakan manusia selama dua puluh kali periode kehidupan mereka.

Saya sangat kagum dengan tokoh Beth dan Xavier yang tetap berjuang mempertahankan cinta mereka padahal yang mereka tentang adalah Surga. Saya tidak bisa membayangkan jika saya berada di posisi Beth. Apalagi keputusan Xavier untuk segera menikah dengan Beth yang bisa dibilang cukup GILA. Tapi saya acungi jempol dengan Xavier karena dia laki-laki yang gentle. Tidak semua laki-laki akan mengambil keputusan secepat yang dilakukan Xavier.

Disini, saya sangat mengagumi Gabriel. Kakak Beth sangatlah bijak sebagai penghulu Malaikat. Dia bahkan merelakan kedua sayapnya untuk menyelamatkan Xavier dari belenggu Lucifer dalam tubuh Xavier sehingga harus membuatnya agak sinting *ya, nggak sinting-sinting amat sih, cuma agak kebingungan dan itu wajar karena sayap malaikat merupakan bagian dari jiwa mereka.

Untuk covernya, tetap sama pendapat saya dengan cover novel keduanya. Simple dengan hanya sepasang sayap saja, tapi kesan luxurious-nya dapet banget. Apalagi biru adalah warna kesukaan saya. Kesan surganya lebih terasa karena warna covernya yang menyala indah.

Last not but least, saya merekomendasikan novel ini buat kalian-kalian yang memang menyukai kisah percintaan antara malaikat dan manusia, dua makhluk tuhan berbeda alam.

“Aku tidak merasa bahwa kita adalah dua orang yang berbeda lagi, rasanya seolah aku hidup di dalammu dan kau hidup di dalamku. Kita bisa dibilang orang yang sama.” —Xavier
 

Miss Romances Book Published @ 2014 by Ipietoon