Tampilkan postingan dengan label Tantangan Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tantangan Menulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

#TantanganMenulis 6: Age-otori






source here
Memotong rambut?
 
Mungkin sebagian besar orang pasti pikir-pikir dulu deh buat potong rambut, apalagi kalo rambutnya itu udah panjang dan lurus. Wihh.. pasti nggak bakal rela, soalnya manjanginnya juga lama. Bisa sampai bertahun-tahun.

Nah, kalo aku sih. Dulu itu paling anti sama gunting rambut. Sampai kadang diomelin sama ibu karena rambutku yang memang udah panjang dan nggak lurus alias bergelombang. Jadi kesannya nggak enak dipandang. Sempet mutusin buat potong rambut sambil berharap kalau misalnya nanti hasilnya bagus, apalagi waktu itu ada juga perempuan yang punya rambut sama kayak aku lagi potong. Nah, setelah ikut-ikut gaya rambut si mbak tadi, ehh ternyata jatuhnya di aku jelek. Kapok itu pasti, sampai hampir setahun nggak potong rambut karena trauma. Dan karena masih diomelin sama ibu juga, sampai telinga panas, akhirnya mau-tidak-mau potong rambut lagi tapi di salon yang beda. Takut kalo sama, hasilnya nggak memuaskan lagi.

Dan alhamdulilah, di salon yang sekarang ini, pelayanannya memuaskan. Hasilnya juga lumayan bagus. Sekarang pun, hampir tiap bulan selalu nyempetin buat ke salon. Potong rambut atau sekedar merapikan rambut yang bercabang. Dan sedikit demi sedikit rambutku yang mulanya bergelombang menjadi lurus *hehe lumayan kan, jadi nggak buang-buang duwit buat rebonding or smoothing. Karena emang dari dulu nggak pernah mau buat yang gitu-gitu, takut rambut rusak.

#TantanganMenulis 7 : Ceritakan sedikit tentang pengalaman tak terlupakan dalam hidupmu.



source here




“Kadang, kita tidak mau keluar dari zona nyaman kita. Kadang, kita tak mau menyerah begitu saja dan mempertahankan apa yang kita miliki sekarang. Padahal di luar sana, masih ada banyak hal yang mungkin lebih bagus, lebih baik, dan lebih indah dibandingkan dengan apa yang sekarang kita miliki.”
—Andry Setiawan, (Not) Alone in Other Land—
                                                                                     
Keluar dari zona nyaman dan harus tinggal di luar kota bukanlah hal yang terlintas dibenak saya sekaligus teman-teman saya dua tahun yang lalu. Tapi karena tugas sekolah, kami harus mau keluar dari zona nyaman. Kami anak-anak Tulungagung yang harus menjalani Praktek Kerja Industri di luar kota. Malang tepatnya. Memang bisa dibilang tidak terlalu jauh, tapi bagi kami yang memang tidak biasa dengan dunia luar, harus bersusah payah menjalaninya selama 3 bulan. Susah dan senang kami tanggung bersama. Banyak tawa canda, serta tangis yang mewarnainya. Bukan hal yang mudah memang, apalagi saat saya sudah terlalu nyaman tinggal di zona yang bisa dikategorikan biasa-biasa saja.

Tapi dari itu semua, saya menemukan hal baru. Bertemu orang baru dengan karakter dan suku bahasa yang berbeda-beda. Sempat saya dan teman-teman saya merasa kewalahan menterjemahkan bahasa saat menjumpai orang baru yang terlalu nyaman dengan bahasa ibu mereka. Tapi dari situ, saya belajar banyak sekali bahasa yang dulunya mungkin belum pernah saya dengar.

Dari sini juga, saya bisa mengenal lebih dalam teman-teman saya. Sifatnya, kebiasaannya, marahnya, tawanya, sedihnya. Hampir setiap hari kami selalu bertengkar, menangis, tertawa, diam, bercanda. Semua itu melebur menjadi satu. Saat kami harus saling menjaga satu sama lain, merawat salah satu teman jika mereka sakit. Kebingungan saat akan memasak, bingung dengan rute jalan. Sampai pernah saya dan salah satu teman saya harus mengalami nasib yang kurang baik karena teledor. Dan dari semua kejadian itu, kami selalu mengambil hikmahnya. Bahwa dengan kami bersama, kami akan selalu aman.

“Persahabatan bukan hanya tentang diri kita menerima orang lain, tetapi juga membiarkan diri kita diterima orang lain.”
—Andry Setiawan, (Not) Alone in Other Land—

Sebuah pertemuan selalu akan mengalir pada pangkalnya, yaitu perpisahan. Setelah semua yang saya rasakan, setelah akhirnya saya mulai nyaman dengan kehidupan baru. Saya dihadapkan pada satu pilihan. Perpisahan. Itu adalah kalimat paling menyakitkan dalam hidup saya, tapi tidak ada pilihan lain yang tentunya bisa saya pilih.

Rabu, 25 Maret 2015

#TantanganMenulis 5: Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.




Untuk Ibu keduaku…

Terimakasih…
Terimakasih…
Maaf…

Itulah kata-kata yang ingin kuucapkan kepadamu sedari dulu, tapi waktu itu kurasa belum ada yang tepat untuk mengungkapkannya. Kau pasti tahu bagaimana sifatku ini, aku kurang bisa mengekspresikan kegembiraan atau kesedihan diriku dengan orang lain, apalagi orang terdekatku seperti dirimu meskipun aku sudah menganggapmu sebagai ibu keduaku.

Aku masih ingat kala kau menggendongku saat masih kecil, berlari-lari kebingungan saat diriku menangis karena kelaparan di waktu petang, kau rela berlari dengan tubuh rentamu demi memenuhi keinginanku. Betapa mulianya dirimu.

Kau menjagaku tanpa pamrih, saat ibu dan ayah kandungku sibuk mencari nafkah untuk masa depanku. Kau selalu menghiburku dan membuatku nyaman bersamamu.

Bodohnya aku tidak menyadari setiap ketulusan yang kau lakukan. Bodohnya aku membiarkanmu merindukanku disaat-saat terakhir dirimu ada di dunia ini. Dan setelah kau tiada, baru kusadari kesalahan ini. Betapa bodohnya aku karena belum bisa memberikan sesuatu yang berharga kepadamu.

Masih kuingat keinginanmu yang belum terpenuhi tentang ingin melihatku menikah, Oh sungguh, maaf karena tidak bisa mengabulkannya saat itu. Umurku masih terlalu dini untuk mengenal yang namanya pernikahan. Mengingat bagaimana kau mengatakannya dengan wajah berbinar senang, membuatku mau-tidak-mau meneteskan airmata lagi.

Tidaklah cukup kata ‘maaf’ dan ‘terimakasih’ untuk membalas semuanya, apalagi menghapus kebodohanku ini. Tapi aku sangat yakin, kau pasti bahagia disana. Aku selalu mendoakanmu setiap hari disela-sela ibadahku. Aku hanya berharap kau bahagia disana. Aku juga berharap kau bisa melihat pernikahanku nanti, walaupun dari atas sana.

Dari cucu tercinta,
Gadis virgo

 

Miss Romances Book Published @ 2014 by Ipietoon