Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juli 2015

Aku Pilih Kamu



"Diikutkan untuk Ramadhan Giveaway dengan tema [Find the Right]."

Aku terbangun saat merasakan gatal di sekujur tubuh. Dan saat membuka mata, aku tahu ada yang berbeda. Aku tidak berada di kamarku. Setelah mengedarkan pandangan, aku ternyata ada di hutan. Dan aku sedang berbaring di semak-semak dengan rumput liar yang terus menggesek kulitku. Pantas saja aku merasa gatal, pikirku.

Tunggu dulu…

Hutan. Aku tercengang, masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi padaku. Beberapa kali aku mengucek mata untuk menyadarkanku kalau ini pasti salah. Tapi percuma saja, ini benar-benar nyata. Padahal seingatku aku baru saja tertidur di ranjang kamarku. Tapi sekarang apa ini ?

Berbagai spekulasi berputar di otakku. Aku menatap ke sekeliling lagi. Sunyi. Itulah gambaran yang kutangkap setelah beberapa kali aku mencoba diam, menunggu barang kali ada gerakan-gerakan kecil yang menandakan adanya kehidupan di hutan ini. Tapi nihil. Tiba-tiba rasa takut mendera hatiku. Aku selalu takut sendiri, apalagi dalam kegelapan malam yang pekat di hutan. Ini pasti mimpi, pikirku lagi. Tapi rasanya tetap aneh, karena jelas-jelas ini nyata. Aku nyata, aku bisa merasakan debaran jantung yang kian memompa cepat dan siap meledak kapan saja.

Baiklah, sekarang tenang dan pikirkan jalan keluarnya, pintaku pada diri sendiri. Mungkin sebaiknya aku menunggu sampai fajar terbit, tapi apa yang kulakukan selama menunggu fajar. Diam dan menunggu datangnya ajal. Memang hutan ini sunyi, nyaris tidak ada penghuni. Tapi aku yakin banyak makhluk aneh yang mungkin mengintai dari kegelapan. Memikirkannya saja membuat bulu kuduk-ku merinding.

Aku tidak boleh terus disini, perintahku. Dengan cepat, aku bangkit dan membersihkan rumput-rumput yang menempel di baju dan lenganku yang tidak terbungkus pakaian. Perlahan tapi pasti aku mulai menyusuri area hutan yang benar-benar asing bagiku dengan rasa takut yang semakin membuncah. Aku bingung dan terus menajamkan telinga untuk menangkap bunyi-bunyi sekecil apapun untuk mengetahui dimana sebenarnya aku ini.

Setelah berjalan agak jauh, aku akhirnya mendengar suara. Seperti orang yang sedang bercakap-cakap. Walau agak jauh, aku masih bisa mendengarnya karena keadaan hutan ini yang sunyi. Dengan cepat aku mencari sumber suara. Siapa tahu suara itu adalah para penjelajah hutan yang sedang berkemah. Rasa lega langsung membanjiri tubuhku, membuatku semakin mempercepat langkah.

Tapi sayangnya apa yang aku pikirkan tidaklah benar. Sebaliknya, pemandangan yang sedang kulihat itu sungguh mengerikan. Ada beberapa orang yang sedang mengelilingi sebuah panggung kecil yang berada di tengah-tengah mereka. Seorang laki-laki dengan kepala menunduk, berada di panggung kecil itu sendiri. Wajahnya tidak kentara, tapi aku merasa aku mengenalnya. Tapi, bukan itu yang mengerikan, melainkan di punggung mereka, tumbuh semacam tulang lebar dengan bulu-bulu halus, mirip seperti sayap. Warnanya hitam pekat dan besar. Menakutkan, pikirku saat pertama kali melihatnya.

Samar-samar kudengar seseorang dengan mata merah dan sayap yang lebih besar dan lebar dari yang lainnya sedang berbicara dengan suara lantang, menatap lurus ke arah laki-laki yang sedang tertunduk di atas panggung.

“Kau tahu, Ric. Kau itu pembangkang. Kau tahu apa resiko dari semua yang kau lakukan itu?”

“Ayah…” balas laki-laki bernama Ric itu pelan tapi menyayat hati.

“Jangan pernah sebut aku ayahmu lagi, Ric. Semua Ras-ku dan keluargaku tidak ada yang pernah membangkang sepertimu,” geram ayah Ric.

Aku hanya bisa bersembunyi dibalik pohon besar tak jauh dari mereka. Aku hanya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ric. Entah kenapa, kakiku rasanya sulit untuk bergerak menjauh dan hanya bisa terpaku di tempatku sekarang. Aku sebenarnya tidak ingin berurusan dengan makhluk aneh seperti mereka yang punya sayap, tapi hati kecilku mengatakan aku harus bertahan.

“Manusia tidak abadi, Ric. Tapi kita abadi, kita bisa hidup selamanya.” Ayah Ric terdengar mulai melembut, dia mencoba untuk kembali membujuk anaknya.

“Tapi manusia punya perasaan, manusia punya cinta. Dan aku sudah merasakannya, ayah.” Balas Ric terus menunduk. Aku yakin dia sangat menghormati ayahnya, makanya dia berusaha untuk tidak bertatapan langsung dengan mata ayahnya yang sedang murka itu.

“Apa yang kau dapat dari cinta, huh? Kau hanya akan terluka, Ric. Tidak ada cinta yang abadi di dalam dunia manusia.” Ayahnya kembali naik pitam. Suaranya naik beberapa oktaf.

“Tapi perasaanku akan tetap abadi ayah. Perasaan ingin menyayangi dan melindungi seseorang yang aku cintai. Aku yakin ayah pasti mengerti.” Jelas Ric.

“Ayah tidak pernah mempercayai apapun yang menyangkut manusia.” Ucap ayah Ric mantap.

Aku berusaha untuk tetap diam dan tidak terlihat oleh mereka. Tapi rasanya sia-sia saja, karena tanpa kudunga, sebuah tangan kokoh sudah menyeretku mendekati mereka berdua dan gerombolannya. Dan ketika pikiranku kembali sadar, aku sudah berada di atas panggung bersama dengan laki-laki bernama Ric. Dari dekat, aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Dia tampan : hidung mancung, tulang pipi yang tajam dan bibir penuh. Matanya berbentuk buah badam dan memiliki warna biru kehijauan yang tajam dengan garis mata jelas di bawah sepasang alis tebal, sangat kontras dengan kulit pucatnya. Aku terpana sesaat sebelum akhirnya di kagetkan dengan suara menggelegar Ayah Ric.

“Jadi dia manusia yang sudah membuatmu membangkang?” tanya Ayah Ric, tatapannya tajam dan menusuk saat aku balas menatapnya.

“Dia tidak pernah terlibat apapun, Ayah. Jangan pernah menyakitinya.” Suara Ric meninggi.

Aku mengenal suara ini. Suara yang selalu kudengar setiap hari. Suara yang selalu membuatku merasakan desiran aneh di dada setiap kali mendengarnya. Ini suara…

Kesadaranku kembali pulih ketika suara menggelegar itu muncul lagi, “Kau pilih dia atau ayah?” tanya ayah Ric. Kali ini tidak ada tatapan lembut di matanya, yang ada hanyalah amarah.

“Aku ingin mengenal manusia. Aku ingin hidup di antara mereka, terumata untuk orang yang kusayang.” Wajah Ric menghadapku saat mengatakan itu. Dan aku terpaku. Aku mengenal tatapan lembut itu. Tatapan penuh kasih dan sayang yang selalu kulihat. Tidak mungkin…

“Baiklah, kalau itu maumu. Aku tidak akan pernah mengampunimu. Dan aku akan menghukum kalian berdua.” Aku menatap ayah Ric dengan ketakutan yang tak bisa kusembunyikan.

“Ayah…” Ric bergerak dan berlutut di bawah tubuh ayahnya, “Aku mohon ayah. Jangan pernah sakiti dia. Hukum aku saja. Dia tidak tahu apa-apa.”

“Kalau begitu, lepaskan sayapmu.” Tantang ayahnya.

Aku hanya bisa menonton dengan pandangan ketakutan. Melepaskan sayap? Itu berarti, Ric akan kehilangan bagian dari tubuhnya. Dan aku yakin itu akan sangat menyakitkan.

Dengan takut-takut, aku mencoba berbicara, “Ric…”

Dia menoleh dan menatapku dengan senyuman, “tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja.” katanya.

Setelah itu pemandangan yang lebih mengerikan menghujam hatiku, menyayat dan merobeknya dengan kecepatan kilat. Aku ingin sekali menghentikan semua ini, atau paling tidak mencegah Ric melakukan sesuatu yang mengerikan. Tapi laki-laki itu bergeming. Dia tetap berlutut dihadapan ayahnya, sementara makhluk-makhluk aneh dengan tubuh kerdil serta sayap yang lebih mengerikan mulai bermunculan dari kegelapan.

Masing-masing dari mereka membawa senjata tajam bergerigi. Dan dalam sekejap, tubuh Ric sudah dikerubungi oleh makhluk-makhluk aneh itu. Dengan cekatan mereka mulai memangkas sayap Ric, menyebabkan bulu hitam pekatnya beterbangan di udara. Setelah itu, darah mulai meleleh dan menjadi genangan besar seiring dengan sayapnya yang mulai terkulai. Tapi Ric tidak berontak. Dia hanya terus menunduk dengan mata terpejam.

Selama itu terjadi, entah kenapa aku kesakitan. Sakit yang luar biasa. Kaki dan tanganku rasanya kebas semua. Aku bahkan tidak mampu untuk sekedar berdiri. Aku bisa merasakan sebuah gelombang kesedihan mendalam melandaku, seperti aku memang memiliki ikatan kuat dengan Ric. Dia kesakitan, begitu juga denganku.

“Ric…” panggilku dengan suara tercekat. Rasa sakit ini sungguh tidak tertahankan. Tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana meredakan rasa sakit yang tiba-tiba menerpa tubuhku.

Kulihat dia menoleh ke arahku, tatapannya menyiratkan keterkejutan. Lalu dengan tatapan murka, dia menatap ayahnya. “Apa yang ayah lakukan padanya? Sudah kubilang untuk tidak menghukumnya.”

“Kau bodoh, Ric. Dia sudah terikat denganmu. Jadi konsekuensinya, dia juga akan merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kau rasakan.” Lalu tatapan ayahnya mengarah kepadaku, iba. “Tapi sayang sekali, dia akan merasakan sakit itu selamanya. Tanpa sadar, kau melukainya Ric. Bukan ayah. Ayah sudah menahanmu untuk tidak melakukannya, tapi kau menolaknya. Dan itu adalah resiko yang harus dia tanggung. Kasihan sekali kau, nak.”

Aku membeku. Terlalu terguncang atas semua kenyataan yang akan aku hadapi ini. Rasa sakit itu belum juga hilang, malahan semakin menjadi-jadi. Aku terisak atas rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Dan tiba-tiba, semua menggelap.

***
“Aaaghh!!” aku terlonjak dari tidurku. Dadaku sesak. Jantungku memompa darah begitu cepat, sementara napasku terengah-engah. Pandanganku kabur oleh air mata yang mulai berjatuhan di pipi. Sekujur tubuhku rasanya sakit semua, rasanya sama seperti yang ada di mimpi. Susah payah aku menggerakkan tangan serta kaki, tapi percuma. Semuanya sakit dan semakin aku berusaha untuk menggerakkan tangan dan seluruh tubuh, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.

Mimpi itu lagi. Mimpi yang sangat nyata. Dadaku sakit, rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhku. Sementara aku mengatur napas panjang-panjang, sebuah tangan kokoh memegangku. Aku terlonjak kaget, hampir memekik seandainya aku tidak mengenal siapa pemilik tangan kokoh itu. Ric, suamiku.

“Mimpi itu lagi?” tanyanya, cemas.

“Itu sudah konsekuensi yang harus aku hadapi.” Ucapku, menenangkannya. Walaupun rasa sakit itu belum juga hilang, tapi aku berusaha untuk tenang dihadapan Ric. Aku hanya tidak ingin membuatnya semakin cemas dan terluka.

“Tapi kau selalu kesakitan. Kau menanggung semuanya atas perbuatanku. Ini tidak adil.” Ucapnya lagi. Dia lalu mengulurkan tangannya, dan merengkuhku dalam pelukannya.

“Itu adil, Ric. Kau mengorbankan sayapmu, bagian dari tubuhmu yang paling berharga untuk bisa hidup denganku, dan sekarang aku mendapatkanmu. Rasa sakit ini tidak berarti apa-apa bagiku, Sayang.” Kubalas pelukannya dengan hati-hati agar rasa sakit di tubuhku tidak bertambah parah. Dalam pelukannya, aku selalu merasa nyaman. Aku selalu merasa terlindungi jika berada disamping Ric.

“Kau akan kesakitan selamanya. Aku tidak ingin ini terus terjadi.” Ric melepaskan pelukannya dan menatapku penuh luka. Aku tahu sebenarnya dia merasa bersalah atas apa yang menimpaku.

Kutatap dia dan tersenyum, “Kita sudah bersatu. Kau ada disini, dan itu cukup untukku. Untuk membuatku bahagia.”

Sabtu, 27 Juni 2015

Menit Terakhir



"Diikutkan untuk Ramadhan Giveaway dengan tema [Friendzone]."


Kutetapkan hati, lalu melangkah mantap menuju pintu belakang rumah milik sahabatku, Emma. Pintu itu sudah terlalu reot, jadi aku bisa dengan mudah membukanya. Dari dulu sampai sekarang aku memang sudah terbiasa datang ke rumah Emma melalui pintu belakang. Begitu pintu terbuka, pemandangan yang selalu membuatku gembira terpampang jelas dihadapanku.

Sebuah taman.

Taman kecil dengan kolam renang di sampingnya. Itulah alasan kenapa aku selalu datang melalui pintu belakang. Biasanya ketika aku datang, Emma selalu ada disana. Entah sedang melamun, membaca buku, atau sekedar mendengarkan musik. Aku tahu Emma sangatlah menyukai taman kecil ini, begitu juga denganku. Kadang, aku akan memanjat pohon besar lalu mulai mengerjai Emma. Tapi itu dulu, saat kami masih kecil. Sekarang, aku hanya bisa menatap pohon itu saja.

Kali ini Emma tidak ada. Tidak biasanya jam segini dia tidak ada di taman. Kulangkahkan kaki menuju sebuah ayunan kecil yang masih terawat padahal itu adalah permainan Emma waktu kecil. Aku duduk disana sambil menunggu Emma. Aku yakin gadis itu sebentar lagi akan datang.

Dan dugaanku benar, dari arah dapur kudengar senandung lagu yang di nyanyikan seseorang. Aku tahu itu Emma dari kepayahannya saat bernyanyi. Dia tampak menikmati alunan lagu yang didengarnya dari headsetyang menempel di telinganya tanpa menyadari kehadiranku. Begitu mendekat kearahku barulah dia terlonjak kaget.

“Ngagetin orang aja. Kebiasaan deh.” Ucapnya sebal. Bibirnya mengerucut, membuatnya semakin cantik. Dia melangkah mendekat dan duduk disebelahku.

“Itu udah tahu.” Balasku asal.


“Kok aku nggak denger suara montormu sih? Jalan kaki?” tanya Emma dengan wajah polosnya. Aku sempat heran dengan wajah polosnya itu, dari kecil sampai dewasa tetap saja masih ada.

“Nggak denger kali. Kamu kan pakai headset.” Kutatap Emma yang hanya mengangguk setuju. Dia kembali bersenandung seolah tidak menghiraukan suara cempengnya yang khas menyebar kesegala penjuru.

Kutatap Emma lagi, kali ini lebih lama. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, sayangnya aku belum yakin bisa. Tapi sampai kapan pula aku akan memendam perasaan ini. Sudah sejak lama aku ingin mengatakannya meskipunselalu tertahan. Sebab aku belum yakin dan juga takut. Takut jika harus mendengar jawaban yang tidak aku sukai keluar dari mulutnya. Kali ini aku akan mencoba, aku tidak mau terus di hantui rasa penasaran. Aku memantapkan hati lagi. Aku harus mengatakannya sebelum terlambat.

“Em, aku mau bilang sesuatu nih.” Ucapku pelan. Kuharap dia tidak mendengarkan saja, jadi aku tidak akan meneruskannya dan memilih topik yang lainnya. Tapi dugaanku salah, Emma mendengarnya. Dia lantas menatapku dengan alis berkerut, cukup kaget mungkin dengan bahasa formal yang kugunakan.

“Nggak usah formal juga kali, Don. Kayak mau nyatain cinta aja.” Balas Emma. Aku tahu dia hanya bercanda, tapi bagiku itu tidak lucu sama sekali. Yang dikatakan Emma benar. Aku memang ingin menyatakan cinta.

“Em, aku suka sama seseorang.” Kataku akhirnya. Aku menatap tepat di matanya. Mencari-cari gelagat yang mungkin akan ditunjukkannya padaku. Tertawa mungkin. Tapi tidak ada, aku tidak menemukannya.

“Kamu suka sama seseorang, siapa?” Emma menatapku tidak percaya. Aku maklum dengan tatapannya itu karena aku memang jarang sekali bergaul dengan perempuan kecuali Emma, jadi aku yakin saat akan mengatakannya pasti ekspresi Emma seakan-akan tidak percaya. “Aku kira kamu nggak suka perempuan.” Lanjutnya.

“Aku masih laki-laki normal, Em.”

“Jadi, siapa perempuan yang beruntung itu?” tatapan Emma membuat nyaliku untuk berucap sirna. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan. Bahagia, lebih tepatnya.

“Di—”

“Tunggu!” belum juga kuselesaikan perkataanku, Emma sudah menyelanya. Aku hampir kesal dibuatnya. “Aku juga punya kabar gembira buat kamu?” wajahnya berbinar-binar dan aku tahu Emma sedang sangat senang.

“Apa?” kuurungkan niatku untuk mengutarakan perasaan. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya, jadi lebih baik dia dulu saja yang mengatakan kabar bahagia itu. Tapi setelahnya aku menyesali keputusanku, seharusnya aku saja yang mengatakannya duluan bukan Emma.

“Dino nembak aku kemarin.” Aku terperangah, nyaris terjatuh kalau saja kakiku tidak menopang tubuhku dengan benar. Aku sudah menduga kalau Dino juga menyukai Emma, tapi aku tidak tahu kalau dia selangkah lebih cepat dariku.

“Lalu?” aku mencoba untuk tidak merasa kecewa, tapi dari nada bicaraku yang ketus, aku tahu aku tidak bisa menyembunyikannya.

“Ya aku terima dong! Aku kan emang udah lama suka sama dia. Kupikir cuma aku aja yang diam-diam suka, ternyata dia juga membalas cintaku.” balasnya cepat. Emma kembali tersenyum, kali ini dua kali lipat lebih lebar dari yang biasanya dia tunjukkan padaku. Hatiku langsung hancur. Dadaku sesak seperti banyak jarum yang menancap disana. Kata-kata yang kuuntai sejak perjalanan ke rumah Emma lenyap sudah, “Oh iya, kamu tadi mau bilang apa, Don?”

Aku terdiam. Cukup lama. Mampukah aku mengatakannya setelah mendengar kabar buruk itu? Aku memejamkan mata sejenak, lalu mulai mengacak rambut frustasi.

“Doni…” kudengar Emma memanggilku. Mungkin kebingungan dengan tingkah yang kutunjukkan padanya.

Kutatap lagi Emma. Aku harus mengatakannya, entah bagaimana nanti reaksinya. Paling tidak aku sudah mengatakannya. Urusan ditolak itu belakangan. Yang penting Emma mengetahui perasaanku. Rasanya itu sudah cukup. Aku menarik napas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.

“Aku suka sam—” belum juga kalimatku terucap lengkap, dari dalam rumah terdengar suara seseorang berteriak-teriak memanggil Emma. Emma mengalihkan pandangan dariku ke arah rumah dengan tatapan bingung.

“Emma…” suara itu lagi. Kali ini lebih jelas dan aku tahu siapa pemilik suara barithon itu. Dia kakak kembaranku, Dino.

“Em, aku belum selesai bicara. Dengarkan aku dulu, baru kamu bisa menemui kakakku.” Aku memohon kepada Emma, tapi kulihat Emma bergeming dan beranjak dari duduknya. Aku mencoba menahannya, tapi percuma.

“Nanti saja ngomongnya ya! Sekarang aku temui kakak kamu dulu.” Emma lantas berlari dan meninggalkanku yang kembali hancur. Belum juga aku mengutarakan perasaan, Emma sudah pergi. Meskipun begitu, aku masih bisa mendengar percakapan antara Dino dan Emma.

“Ada apa, No?” tanya Emma. Dino datang dengan wajah lesu. Tatapan matanya menyiratkan kekhawatiran dan kesakitan yang mendalam.

“Doni, Em. Doni.” Kakakku berteriak frustasi. Beberapa kali kulihat dia menjambak rambutnya.

“Doni kenapa?” raut wajah Emma semakin bingung. Mungkin bingung dengan perkataan kakakku, karena yang Emma tahu, aku dari tadi bersamanya.

“Doni kecelakaan sejam yang lalu sewaktu berangkat ke rumahmu. Dia meninggal ditempat, Em.” Kata-kata yang kutakutkan meluncur juga dari mulut kakakku. Dino lalu roboh dan menangis.

“Kamu bercanda, kan? Doni dari tadi sama aku, No.” ucap Emma. Dia menunduk dan menatap kakakku yang terus saja terisak, minta penjelasan.

“Buat apa aku mengada-ada berita buruk ini, Em.” Emma ikut roboh di samping Dino. Matanya lalu menatapku yang sepertinya sudah hampir menghilang.

“Nggak, nggak mungkin, No. Tadi dia sama aku. Dia ada disana,” Emma menunjuk ke arah ayunan, dimana aku berada. “ Tadi dia disana.” Kemudian Emma terisak dan bangkit tergesa-gesa melangkah ke arahku.

Dia terlonjak kaget. Dia tidak menemukanku. Tentu saja karena tubuhku mulai memudar. Kali ini tangisnya pecah, dia terisak-isak di dekapan kakakku.

“Seharusnya aku tadi mendengarkannya, No. Tadi dia ingin mengatakan sesuatu.” Ucap Emma disela-sela tangisnya.

Aku menatap Emma, sebelum pergi aku harus mengatakannya. Sebelum tubuhku benar-benar lenyap, aku harus mengatakannya. Walaupun mungkin dia tidak mendengar ucapanku, paling tidak aku sudah mengatakannya. “Aku suka kamu, Em.”Kataku akhirnya.
 

Miss Romances Book Published @ 2014 by Ipietoon