Rabu, 25 Maret 2015

#TantanganMenulis 4: Tuliskan sesuatu tentang benda kesayanganmu.




Untuk Queensha…

Mungkin ada yang mengira Queensha yang saya maksud adalah nama orang, padahal sebenarnya bukan. Dia adalah salah satu benda kesayangan saya. Bolpoin. Itulah nama untuk bolpoin kesayangan saya.

Pasti diantara kalian ada yang berpikir,“Halah cuma bolpoin, apa istimewanya sih?”
Saya sangat yakin ada yang berpikir begitu. Memang sih, bolpoin cuma buat gitu-gitu aja, cuma bisa buat nulis. Tapi coba dipikir lagi deh, kalau nggak ada bolpoin kita juga kerepotan lho! *hehe.

Bolpoin itu bisa dibilang benda berharga bagi saya. Karena bolpoin itu hasil pertukaran saya dengan seseorang *lebih tepatnya saya yang memaksa menukarnya haha. Sampai sekarang pun, saya masih menyimpannya meskipun sudah beranjak dua tahun. Tintanya pun masih penuh karena memang sengaja tidak saya gunakan, sayang bangett kan, apalagi dari seseorang yang saya sayangi.

Hampir setiap hari saya selalu membawanya, sekedar untuk mengusir sepi kala merindukan ‘Tuan Lamanya’ *haha terdengar klise ya, memang.

Dan khusus untuk  Untuk Queensha…
Jika kau menjadi manusia, kau pasti marah padaku, kan? Tentu saja, siapa pun pasti tidak ingin dipisahkan dari Tuannya. Maafkanlah kesalahan Tuan barumu ini, aku memang sengaja menukarmu, karena aku ingin memilikimu. Kau sudah lama bersama Tuan lamamu, jadi aku bermaksud mengambilmu agar aku juga bisa memilikimu. Kau pasti tahu apa tujuanku yang sebenarnya? Aku yakin kau tahu itu, teman.

Aku sangat berterimakasih kau mau terus bersamaku selama dua tahun ini. Melalui hari-hari yang mungkin membosankan bagiku saat bersamaku. Sungguh, aku berterimakasih padamu. Aku benar-benar tulus, karena hanya dari dirimu, aku bisa terus mengingat Tuan lamamu. Dan aku berharap kau terus bersamaku selalu, menemani setiap hariku dengan kesibukan dan kegilaanku yang pastinya selalu kau amati.

Terimakasih untuk membiarkanku selalu ada di sisimu.
Queensha…

Dari Tuan barumu,
Gadis virgo

Senin, 23 Maret 2015

[Review] 28 Detik





Judul : 28 Detik
Penulis : Ifa Inziati
Penyunting : Dila Maretihaqsari
Perancang Sampul : Bara Umar Birru
Pemeriksa Aksara : Nunung Wiyati & Sheraynardia
Penata Aksara : Gabriel
Penerbit : Bentang Belia
Tanggal Terbit : November 2014
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-1383-03-2





“Kamu boleh melihat-lihat luar, tapi carilah jiwa itu di dalam hati. Karena, memang nggak pernah ke mana-mana sejak kamu ada di dunia. Bakar istimewa kamu, pasti juga ada hubungannya dengan jalan yang kamu tempuh.” —hal. 90

Bakat dan Semangat, siapa yang setuju kalau kedua kata itu saling berhubungan?
Semangat tanpa bakat, tidak ada gunanya dan sia-sia. Begitu pula jika mempunyai bakat tapi tidak punya semangat untuk mengembangkannya. Bakat itu juga akan terbengkalai sia-sia juga. Jadi Bakat dan Semangat itu sangat berkaitan mesti punya arti yang berbeda.

Begitu pula yang dialami dua tokoh dalam novel ini. Candu dan Rohan. Candu, adalah seorang barista hebat di kedai KopiKasep, yang menganggap dirinya lebih punya semangat daripada bakat. Sedangkan, Rohan adalah seorang gadis SMA yang memiliki bakat menghafal rumus-rumus Fisika sejak lahir atau yang biasa disebut Si-nestesia.

“Karena dia adalah orang pertama yang mengajak saya mengobrol dengan pantas, seperti halnya dia menjadi orang pertama yang membuatmu memperhatikan hal selain kopi.” —hal. 192

Mereka berdua bertemu di kedai KopiKasep tempat Candu berkerja. Basa-basi singkat yang akhirnya menjalar menjadi obrolan yang wajib bagi Candu. Dia merasa Rohan berbeda. Dia nyebelin, aneh, dan tentunya cantik, walaupun awalnya kaku dan jarang bersenyum. Apalagi Rohan sangat tidak menyukai kopi, karena dia selalu memesan Raspberry ices tea. Candu selalu penasaran dengan gadis itu, karena Rohan sempat menawarkan untuk menukar bakatnya dengan semangat Candu.

“Nggak ada rasa yang cuma satu. Di balik benci pasti ada cinta, di balik cuek pasti ada sayang, masa di balik pahit aja nggak bisa ada rasa manis? Makanya, kamu harus tahu cara menikmatinya dulu. Hidup juga sama kayak kopi, kerasa pahit kalau nggak tahu cara menikmatinya.” —hal. 118

Selain itu, tanpa bisa dicegah sebuah cinta akan selalu muncul tanpa bisa dihentikan, tanpa bisa kita hindari. Serry, Candu, Rohan, Winona dan juga Satrya. Mereka harus mengakui kalau memang merasakannya. Serry dengan Candy, Candy dengan Rohan, serta Satrya yang memang sudah mencintai Winona lama. Tapi selalu ada yang tidak merasakannya, yaitu Candu. Ya, dia tidak peka terhadap perasaan itu. Dia juga merasakannya, cinta itu, tapi tidak tahu apa artinya. Karena bukan itulah tujuannya, dia sangat mencintai kopi, sehingga cinta itu tertutupi oleh kecintaannya dengan kopi.

“kamu nggak mungkin tahu apa itu lenyap kalau tidak pernah menemukannya sejak awal. Kamu boleh sadar kalau kamu cinta saat itu ada, tapi kesadaran saat tiada itu seperti panah yang melesat dari jauh dan menusuk kepala. Tak terdengar, hanya langsung sakit.” —hal. 188

Sebenarnya tokoh dalam novel ini tidaklah hanya mereka berdua. Ada Satrya, Winona, Serry, dan juga Nino. Mereka adalah pengawai KopiKasep serta patner Candu dalam mengikuti NBT (Nusantara Barista Tournament). Ceritanya pun nggak melulu tentang cinta, karena tema novel ini sendiri adalah tentang passions. Bagaimana kita menggapai passions itu. Begitulah yang coba disampaikan penulis lewat novel 28 detik ini.

Kebanyakan adegan berlatar di kedai KopiKasep serta kesibukan masing-masing tokohnya. Bagaimana cara membuat kopi dan suasana di kedai KopiKasep serta kehadiran Rohan. Awal membaca, agak bingung juga karena menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku. Okay, yang saya bingungkan itu adalah siapa Aku dalam novel ini. Sempat mengira mungkin Aku dalam novel ini adalah seorang perempuan, entah bernama siapa.

Tapi setelah membaca lebih lanjut, saya baru nggeh kalau aku dalam novel ini adalah sebuah benda.  Mesin espresso. Simoncelli. Itulah namanya, pemberian dari Candu. Padahal penulis sudah menjelaskan diawal cerita, tapi saya baru nggeh-nya waktu dipertengahan. Yess, itu membuat saya langsung terkejut. Mungkin yang pernah membaca novel ini juga merasakan hal yang sama seperti saya.

Konflik yang disajikan penulis pun tidak hanya masalah romance, sebagian besar adalah konflik para tokoh dalam menghadapi kompetisi NBT. Karakter para tokohnya yang memang berbeda-beda membuat cerita dalam novel ini semakin semarak. Sebut saja Winona yang memang suka berteriak-teriak, lalu Candu yang selalu mengoceh menyemarakkan suasana KopiKasep, Satrya dengan sifat kalem dan tenangnya, Serry yang murah senyum, dan Nino yang setia duduk di meja kasir dan nyaris tidak berbicara sepatah kata pun. Tidak lupa, penghuni baru KopiKasep, Rohan dengan buku-bukunya di sudut. Meskipun begitu, sebagian jalan ceritanya bisa ditebak dengan mudah. Jadi saya tidak kaget jika ternyata yang mengkhianati Candu adalah Rohan. Uppss, spoiler…

“Nggak ada yang lebih pengertian dari kopi. Ia selalu ada kapan pun kita butuh. Dan, ia nggak pernah rewel, nggak pernah ngambekan. Ia juga wangi dan hangat. Sempurna banget, kan?” —hal. 197

Jumat, 20 Maret 2015

[Review] Pre Wedding in Chaos



 
Judul : Pre Wedding in Chaos
Penulis : Elsa Puspita
Penyunting : Pratiwi Utami
Perancang Aksara : Septi Ws, Intan Sis
Penata Aksara : Endah Aditya
Penerbit : Bentang Pustaka
Tanggal Terbit : Oktober 2014
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-291-056-5





“Nyatuin dua kepala itu nggak pernah gampang, makanya kompromi harus selalu di barisan terdepan dalam hal apa pun”—hal. 209

Hubungan selama apa pun, lima tahun, tujuh tahun atau yang lebih lama lagi sembilan tahun belum tentu bisa menyatukan dua insan manusia yang sedang jatuh cinta untuk bisa menikmati indahnya pernikahan. Apalagi jika diantara mereka, ego saling berkuasa dan mempengaruhi masing-masing agar tidak mau mengalah.

Begitulah yang dialami oleh Aria dan Raga. Meskipun mereka sudah menjalani hubungan selama sembilan tahun, tidak menutup kemungkinan bahwa saat persiapan pernikahan banyak permasalahan yang mereka hadapi. Konsep acara, undangan, pakaian, catering.

Apalagi Aria memandang skeptic pernikahan, setelah apa yang dialami oleh kedua kakaknya yang bisa dibilang mengalami pernikahan tidak sempurna. Reza, kakak sulungnya menikah kali pertama di usia sembilan belas tahun karena pacarnya hamil duluan. Lalu, kakak keduanya, Mayang yang menikah dengan laki-laki yang sudah beristri. Mungkin itulah alasan mengapa Aria enggan untuk menikah. Dia tidak ingin di poligami, apalagi kalau sampai suaminya mengatur-mengatur hidupnya. Dia ingin Raga sampai menghalanginya untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya, Nessa, Mona dan Adit.


Belum cukup sampai disitu, mereka juga dihadapkan pada masalah yang lebih klimaks dari pada itu. Aria benci dengan anak kecil. Dia akan selalu menghindar jika sudah berada di dekat anak kecil. Menurutnya sisi manis anak kecil itu cuma tipuan, wajah mereka yang sok imut itu nggak lebih dari sekedar jebakan biar kita —para orang dewasa— menurut dengan mereka. Pertengkaran mereka selalu terjadi hampir setiap hari. Ego masing-masing selalu menonjol untuk menang, diantara Raga dan Aria tidak ada yang ingin mengalah. Ternyata mengenal seseorang selama apa pun belum tentu bisa mengenalnya luar-dalam.


Suguhan cerita yang mengingatkan kita bahwa selama apa pun sebuah hubungan terjalin, tidak dipungkiri hubungan itu akan tetap berakhir jika kata cinta sudah tidak ada di dalam hati setiap jiwa.

Awal pertama, penulis menyuguhkan kisah yang menurut saya cukup enak untuk dibaca. Tentang sebuah persiapan pernikahan dengan gejolak keraguan di pihak mempelai wanita. Merasa kurang srek dengan apa yang dilakukannya, tapi kurang pantas juga jika akhirnya harus diakhiri. Alur ceritanya mengalir pelan tapi pasti. Saya sampai sempat bingung kenapa bisa secepat itu membaca novel, mungkin karena merasa nyaman dengan alurnya.

Tapi saya agak kecewa dengan penuntasan akhir cerita, menurut saya terlalu terburu-buru dan kesannya dipaksakan. Emosi saya yang sempat dibuat naik-turun langsung menguap begitu saja saat mencapai akhir cerita. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”


“Kalau menurut gue, sih, hidup itu tuh, kayak permainan. Ada tahap-tahap yang harus kita lewatin buat naik level. Level pertama pas baru lahir. Terus, belajar tengkurap, merangkak, berdiri, jalan, sampai akhirnya bisa lari. Level selajutnya tingkatan sekolah, kuliah, kerja. Habis itu nikah. Di part nikah, levelnya adaptasi dan punya anak. Kalau lagi main game dan lo stuck di level itu-itu aja, apa lo nggak bosen, terus berhenti main?”—hal. 218

Suka dengan karakter Raga yang bisa dibilang cukup dewasa dibandingkan Aria yang menurutku malah kekanak-kanakan. Dia bisa membimbing Aria dan tidak terlalu menuntut Aria dalam hal apa pun. Walaupun dia harus rela menunggu Aria selama sembilan tahun. Sembilan tahun itu bukan waktu yang singkat lho! Jadi salut banget. Balutan kisah romance dan ketegangan yang disajikan penulis membuat saya cukup puas. Karena ya, saya memang tidak terlalu suka kisah romance yang terlalu mengumbar kemesraan saja.

Tidak pernah menyangka akan disuguhkan ending yang mengejutkan —saya sampai shock— saat sampai apa Epilog cerita. Saya pikir masalah-masalah yang dihadapi para tokoh utama bisa diselesaikan. Dan mereka bisa menikah tentunya—itu sebenarnya harapan saya—. Tapi penulis membalikkan semuanya, membuat khayalan saya tentang dua tokoh utama yang akhirnya bahagia itu sirna. Mungkin karena saya sudah masuk dalam cerita jadinya agak kecewa juga.

Satu hal yang saya bisa ambil dari sini, bahwa kisah romance tidak selalu melulu harus bahagia, indah dan menyenangkan karena kesedihan, keegoisan, kemarahan selalu berbalut dan ada dalam kisah romance itu sendiri. Dan mereka selalu jadi satu paket yang tidak bisa dipisahkan —tentunya.

“When life is well, say thank you and celebrate, and when life is blitter, say thank you and grow.” —Shauna Niequist

 

Miss Romances Book Published @ 2014 by Ipietoon